TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...... .....SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1439 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN..........REMAJATENIS BANDUNG 22-24 JUNI 2018........REMAJA TENIS SUMSEL XVI 22-24 JUNI 2018......REMAJATENIS JAKARTA-71 TGL 29 JUNI-1 JULI 2018.............. MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

PELTI Gambling

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Gambling itulah kesimpulan diberikan kepada PP Pelti dalam hal ini Bidang Pembinaan Prestasi terhadap penyusunan tim Davis Cup Indonesia saat menghadapi tim Filipina di stadion tenis GBK Senayan Jakarta awal Februari lalu. Dalam kehidupan sehari hari jika berani lakukan gambling maka ada 2 result yang akan didapat, yaitu Berhasil atau Gagal.

Dengan dalih regenerasi sebagai alasan ampuh membela kebijakan yang dilakukan dengan tujuan yang sangat jauh kedepan. Sehingga dukunganpun mengalir seperti air hujan yang sedabg melanda Ibukota sehingga ikut jadi adem

Masyarakatpun sejak awal sangat mendambakan induk organisasi yang saat ini dipimpin oleh orang yang tahu tenis karena dibedakan dengan ketua umum PP Pelti sebelumnya (2012-2017) sehingga berhasil meraup suara dalam Munas Pelti 2017 dikota Banjarmasin, dengan asa banyak perubahan peningkatan prestasi maupun demand terhadap pertenisan Indonesia yang saat ini sudah sangat amat terpuruk.
Sehingga perubahan policy menjadikan prioritas utama seperti regenerasi menjadi acuan dalam program kerja PP Pelti mendatang dianggap suatu tindakan yang sangat tepat tanpa melihat situasi dan kondisi atau momentnya.

Tetapi yang jadi pertanyaannya adalah apakah tepat waktunya diajang Piala Davis ? Itu suatu pertanyaan dibenak pembina tenis Indonesia yang lebih berpikir realistis dibandingkan berpikir emosional.
Alasan yang digunakan sebagai bentuk defence terhadap kegagalan di Piala Davis bukan suatu jawaban yang tepat. Disebutkan pula oleh pembina lainnya kita harus bisa memilah milah mana yang lebih tepat regenerasi tsb apakah di Piala Davis atau diajang multi event. Karena piala Davis posisi Indonesia saat ini jika tidak berpikir rasional maka diawal kepengurusan ini akan mencatat sejarah buruk bagi tenis Indonesia karena bisa terjadi degradasi kegrup III. Ini baru sejarah. Saat ini tercatat sejarah baru yang cukup membanggakan bagi masyarakat tenis Indonesia dengan turunnya Presiden Republik Indonesia meresmikan renovasi stadion tenis GBK. Jangan sejarah ini dicorengi dengan sejarah baru degaradasi di Piala Davis.

Setelah gagal lawan Filipina muncullah inisiatip merubah kebijakan regenerasi yang awalnya begitu menggebu gebu. Sehingga timbul kesan tidak konsisten dalam menjalankan program. Disinilah mulai terlihat ada ketidak cocokan pemangku kebijakan dalam hal ini bidang pembinaan dengan statement team manager yang mengatakan dimedia tentang petenis nomor satu Christopher Rungkat yang tidak diundang masuk tim Piala Davis disaat lawan Filipinaakibat perubahan policy regenerasi.

Christopher Rungkat diundang masuk tim piala Davis untuk melawan Sri Lanka bulan April mendatang. Artinya tidak mempunyai konsep kedepan. Hanya konsep by accident bukan by design untuk mengangkat prestasi dan prestige Tenis Indonesia. Kalau era PP Pelti sebelumnya saya pernah sampaikan langsung kepada Ketua Umum PP Pelti (2012-2017) saat menunjuk kabinpres dengan komen yang ternyata benar realitanya yaitu “trial and error”.
Kejadian yang sama dibuat era sekarang dengan era sebelumnya yaitu pelatih tim nasional adalah wakil ketua bidang Binpres. Memang ada perbedaan keduanya sangat jelas dimana sebelumnya itu pelatih abal abal karena pengalamannya hanya melatih club bukan prestasi. Kalau yang sekarang punya pengalaman sebagai pelatih tim Davis Cup era Tanri Abeng yang dianggap lebih kompeten
Inkonsistensi dalam menjalankan program merupakan gejala gejala akan terjadi konflik internal karena pemangku kebijakan dan penunjangnya merupakan tenaga yang punya prinsip keras dalam mempertahankan ego masing masing sesuai dengan aliran tenis adalah olahraga individu.

Akhirnya diambil keputusan mendatangkan pelatih asing asal Belanda yang sudah cukup dikenal di Indonesia sebagai tutor Workshop yang jadi langganan masyarakat tenis Indonesia.
Mudah mudahan keberadaan pelatih asing ini sebagai bentuk pengakuan resmi belum ada pelatih nasional yang capable menangani tim nasional kita. Ini fakta yang harus diakui kalau perlu suatu peningkatan kualitas SDM pelaku tenis merupakan prioritas utama induk organisasi tenis.
Seebenarnya titik lemah bukannya masalah pelatih nasional tetapi masalah terbesar adalah minimnya try out maupun try-in turnamrn internasional bagi petenis nasional. Alasannya adalah masalah finansial. Era Ketua Umum PP Pelti saat ini dalam pemaparan visi dan misinya sewaktu Munas ataupun rumor yang beredar masalah finansial bukanlah masalah seriusnya. Hal ini yang perlu pembuktian nyata bukan hanya lipservice belaka. Selamat bekerja. Selamat berprestasi. Bravo Tenis Indonesia.(penulis August Ferry Raturandang)

Comments are closed.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media