TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...... ..... . REMAJATENIS BANTUL--7 TGL 3-5 AGUSTUS 2018 DI BANTUL....REMAJATENIS JAKARTA-72 TGL 17-19 AGUSTUS 2018 DI JAKARTA..........REMAJATENIS BANDUNG TGL 24-26 AGUSTUS 2018.......... MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Kembalikan Medali Emas, Atlet Paralimpik Jabar Jalan Kaki dari Bandung ke Jakarta

REMAJA-TENIOS.COM,BANDUNG, – Enam atlet paralimpik Jabar peraih medali emas di ajang Pekan Paralimpik Nasional atau Peparnas XV/2016 berjalan kaki dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api atau GBLA di Gedebage, Kota Bandung menuju Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu 4 Agustus 2018.

Hal itu mereka lakukan sebagai bentuk protes terkatung-katungnya penyelesaian kasus “kematian” pengembangan atlet peraih medali emas karena menolak memberikan setoran kepada NPCI (National Paralimpic Committee of Indonesia) Pusat dan NPCI Jabar.

“Kasus ini sudah 7 kali disidangkan, NPCI tak pernah hadir. Mereka cuma mengutus kuasa hukumnya,” kata Farid Surdin, peraih medali emas untuk cabang tolak peluru pada Peparnas XV/2016 lalu.

Galamedianews melaporkan, keenam atlet itu adalah Farid Surdin, Ganjar Jatnika, Asri, Junaedi, Elda Fahmi, dan Sony Satrio.

Mereka memulai perjalanan pukul 10.00 WIB dan rombongan dilepas Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudi. Mereka diprediksi tiba di Stadion GBK Jakarta Selasa, 7 Agustus 2018 dengan waktu perjalanan sekira 4 hari.

Di Stadion GBK, para atlet peraih medali emas itu akan beorasi memprotes tindak kesewenang-wenangan penguasa dan membentangkan spanduk protes terhadap kematian karier mereka sebagai atlet berprestasi.

Dengan tidak menyetorkan 25 persen dari bonus yang mereka terima saat Peparnas XV/2016, mereka tidak diikutsertakan pada even Asian Games 2018.

“Sebagai bentuk kekecewaan, kami akan kembalikan medali emas kepada Presiden. Medali emas sebagai bukti prestasi kami kaum difabel kalah oleh kekuasaan setoran dan penguasa yang zalim,” ucap Farid mewakili teman-temannya.

Peristiwa itu berawal dari adanya keharusan para atlet paralimpik Jabar peraih medali untuk menyetor uang kepada NPCI Jabar sebesar 25 persen dari penerimaan bonus para atlet.

Atlet peraih medali emas itu rata-rata mendapat bonus dari Pemprov Jabar Rp 287 juta hingga Rp 581 juta.

Diperkirakan, dari enam atlet, uang yang diterima sebesar Rp 1,7 miliar. Dari jumlah itu, 25 persennya harus disetorkan ke NPCI Jabar.

Atas permintaan itu, para atlet menolak karena bonus merupakan hak atlet dan tidak ada landasan hukumnya.

Akan tetapi, dampak dari hal tersebut yaitu nama para atlet peraih medali emas dicoret dan tidak diikutsertakan dalam ajang-ajang olah raga paralimpik selanjutnya yaitu ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur dan Asian Para Games 2018 di Jakarta.

Para atlet menilai, permintaan 25 persen dari penghasilan atau penerimaan bonus merupakan perbuatan melawan hukum karena melanggar pasal 142 Undang Undang RI Nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas.

Pengalaman yang hilang
Pendamping para atlet disabilitas, Andri Perkasa Kantraprawira dari Gerakan Pilihan Sunda mengatakan, enam atlet itu memilih protes dengan jalan kaki ke Jakarta.

“Mereka ingin merasakan rumput Stadion GBK yang mungkin nanti tidak pernah mereka rasakan lagi karena matinya karier mereka,” kata dia.

Sebelumnya, para atlet peraih medali emas itu telah melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan kasus ini. Antara lain, mengikuti sidang 7 kali (2 kali sidang pembukaan dan 5 kali media). Mereka juga harus menginap di Pengadilan Negeri Kelas 1 Bandung, usai sidang media kelima yang tak pernah dihadiri pihak tergugat, NPCI Pusat dan NPCI Jabar.

Selama perjalanan sekira 4 hari menuju Stadion GBK, menurut Andri, para atlet berupaya berjalan 50 km per hari.

“Kami juga sudah menyiapkan titik-titik istirahat di masjid. Kami berharap, doa dan dukungan dari warga yang akan dilewati rombongan enam atlet disabilitas penyumbang emas di Perpanas XV ini,” kata Andri.***(pikiran rakayat)

Istirahat di Cimahi, Aksi Jalan Kaki ke Jakarta Atlet Paralimpik Jabar Berlanjut

REMAJA-TENIS.COM, CIMAHI.- Enam atlet paralimpik Jabar yang melakukan aksi jalan kaki ke Jakarta sempat menginap di kantor DPRD Kota Cimahi Jalan Dra. Djulaeha Karmita. Minggu 5 Agustus 2018, keenam peraih medali emas Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 melanjutkan perjalanan ke Stadion Gelora Bung Karno.

Mereka berjalan kaki dari Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di Gedebage, Kota Bandung menuju Jakarta untuk mengembalikan medali emas. Sebagai bentuk protes terkatung-katungnya penyelesaian kasus yang dimulai dengan menolak memberikan setoran kepada National Paralimpic Committee of Indonesia (NPCI) Pusat dan NPCI Jabar.

Keenam atlet tersebut yaitu Farid Surdin, Ganjar Jatnika, Asri, Junaedi, Elda Fahmi, dan Sony Satrio. Mereka dilepas Ketua Paguyuban Pasundan Didi Turmudzi dari GBLA pada Sabtu 4 Agustus 2018 pukul 10.00 WIB. Mereka diprediksi tiba di Stadion GBK Jakarta Selasa 7 Agustus 2018 mendatang.

Para atlet bersama pendamping tiba di gedung DPRD Kota Cimahi pukul 21.00 WIB dan diterima oleh Ketua DPRD Kota Cimahi Ahmad Gunawan. Mereka diperbolehkan menginap di mushola dan diberikan beserta fasilitasnya selama menginap. Setelah persiapan, mereka melanjutkan perjalanan dari lokasi sekitar pukul 10.00 WIB dan bergerak menuju Purwakarta.

Salah satu atlet judo peraih emas, Junaedi (22), mengatakan, pihaknya berharap sistem setoran dari atlet untuk mengurus benar-benar diubah. “Harapan kami benar-benar sistemnya diubah dari NPCI dan rezim sekarang harus turun karena berkuasa sampai 20 tahun. Karena enggak setor bonus medali karier kami di blacklist, malah kami tidak bisa main pada laga tingkat daerah, nasional, maupun internasional. Secara pasti, karir kami dibunuh,” ujarnya.

Potongan dan setoran
Menurut Junaedi, saat Peparnas Pemprov Jabar menjanjikan bonus bagi para atlet disabilitas asal Jabar yang mampu memberikan medali emas, perak, dan perunggu.

Namun saat menerima bonus, nominal yang masuk ke rekening mereka berbeda dengan apa yang dijanjikan. Selain itu, kata dia, NPCI meminta kontribusi 25 persen dari bonus yang diberikan pemerintah.

“Bonus Peparnas yang dijanjikan Gubernur Jabar Pak Ahmad Heryawan saat penyelenggaraan senilai Rp 275 juta. Yang diterima Rp 230 juta. Dan dipotong NPCI langsung harus setor 25% sekitar Rp 55 juta,” katanya.

Di Stadion GBK, para atlet peraih medali emas itu akan berorasi memprotes tindak kesewenang-wenangan penguasa dan membentangkan spanduk protes terhadap kematian karier mereka sebagai atlet berprestasi.

Menurutnya, NPCI merenggut harapan para atlet disabilitas untuk bisa berlaga pada ajang Asian Games 2018. Atlet yang enggan memberikan uang kontribusi tidak didaftarkan dalam pemusatan latihan seleksi kontingen Asian Games.

“Karena tidak mau setor, karir saya dijegal padahal harusnya bisa ikut Sea Games kemarin di Malaysia. Atau bahkan ikut Asian Games,” tuturnya.***(pikiran rakyat)

Kontingen Indonesia Janji Tampil Maksimal

REMAJA-TENIS.COM,JAKARTA – Pengukuhan atlet dan ofisial Tim Indonesia Asian Games 2018 menjadi momentum penuh makna dan sangat penting karena melalui proses ini, seluruh kontingen atau tim Indonesia secara resmi disematkan amanah dan tugas kebangsaan utama. Tugas kebangsaan itu adalah mengangkat harkat dan derajat bangsa Indonesia di mata dunia. Demikian disampaikan Chef de Mission (CdM) atau Ketua Kontingen Tim Indonesia Asian Games 2018, Komjen Pol. Drs. Syafruddin, Msi, pada upacara pengukuhan atlet dan ofisial kontingen atau Tim Indonesia Asian Games 2018, yang berlangsung Minggu sore di Istora Senayan Jakarta, 5 Agustus 2018.

Kepada Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani yang menjadi inspektur upacara pada petang itu, Syafruddin menyampakan tekad dan kesiapan semua atlet dan ofisial mengemban tugas negara dengan sebaik-baiknya.
“Kami siap mengemban tugas negara ini dengan segenap curahan keringat dan kejuangan. Kami siap bekerja keras untuk negeri, mengalahkan diri sendiri dan lawan, untuk kepentingan bangsa di atas segalanya, mengharumkan nama Indonesia, mearih kemenangan demi kemenangan, serta merebut juara dalam event Asian Games ke-18 tahun 2018,” tegas orang nomor dua di Kepolisian Republik Indonesia itu.

Di hadapan 350 atlet dan ofisial yang hadir mewakili semua cabor dan tim kontingen Indonesia, Syafruddin kembali memohon doa restu kepada seluruh bangsa Indonesia agar tim Indonesia sukses di laga Asian Games yang digelar 18 Agustus hingga 2 September nanti.

”Atas nama anak bangsa Indonesia, kami mohon doa restu, semoga Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa senantiasa memberi petunjuk dan hidayah untuk kejayaan Indonesia, sehingga seluruh hasil capaian Tim Indonesia optimal dan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, nusa dan tanah air tercinta,” kata pria yang akrab dipanggil Pak Syaf. Hal lain yang dilaporkan CdM pada upacara pengukuhan itu adalah jumlah Tim Kontingen Indonesia yang mencapai 1383 orang.

Menurut Syafruddin, sesuai Keputusan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Nomor 09/Kep-AG/KOI/VII/2018 dan Surat Keputusan KOI Nomor 10/KEPAG/KOI/VII/2018, jumlah kontingen Indonesia terdiri dari 938 atlet dan 365 Ofisial, dan 80 headquarter.
Kepada Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani yang menjadi inspektur upacara pada petang itu, Syafruddin menyampakan tekad dan kesiapan semua atlet dan ofisial mengemban tugas negara dengan sebaik-baiknya. “Tanpa menyurutkan tekad dan kebersamaan perjuangan, maka dalam pelaksanaan upacara pengukuhan ini dihadiri oleh 350 atlet dan ofisial. Sebagian besar atlet dan ofisal masih menjalani program pelatnas, training camp, maupun try out baik di luar kota maupun di luar negeri,”kata penggemar olah raga renang dan jetski ini.

Dalam acara itu, para atlet juga membacakan janji atlet. Pembacaan janji atlet diwakili oleh Amalia Fajrina (Cabor Bola Voli), Mutiara Habiba (Cabor Taekwondo), dan Lalu Muhammad Zohri (Cabor Atletik) yang namanya melejit setelah memenangi kejuaraan atletik junior dunia belum lama ini.

Selain dihadiri para atlet dan ofisial, pengukuhan juga dihadiri Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Ketua KOI Erick Tohir, dan Plt Sekjen KOI Helen Sarita, Sekretaris Kemenpora Gatot S. Dewo Broto, para pengurus KONI dan pengurus cabang olahraga.

Di akhir upacara pengukuhan, seluruh pejabat, tamu undangan, atlet dan ofisial Tim Indonesia melakukan flashmob bersama, bergoyang dan menari bersama, untuk membakar dan membangkitkan semangat Tim Indonesia menuju perjuangan merebut prestasi di Asian Games.(kompas.com)

Martuama Saragi Kembali Terpilih Jadi Ketum Persatuan Soft Tenis Indonesia

REMAJA-TENIS.COM,JAKARTA – Martuama Saragi kembali terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Indonesia (PP Pesti) masa bakti 2018-2023 dalam Musyawarah Nasional (Munas) Pesti di Hotel Blue Sky Jakarta, Sabtu (4/8).

Pria yang sehari-hari berdinas di Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI) itu adalah incumbent pemimpin induk organisasi soft tenis di Tanah Air.

Peserta munas yang merupakan wakil dari 16 Pengurus Provinsi (Pengprov) Pesti, yaitu DKI, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Aceh, Jambi, Lampung, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan Maluku Utara serta Papua mendapuk Martuama kembali menduduki jabatan Ketua Umum PP Pesti secara aklamasi.

“Perlu ada kesinambungan program pengembangan soft tenis di Indonesia.Karenanya kami memberi kesempatan kepada Ketua Umum sebelumnya kembali memimpin organisasi ini agar prestasi olahraga ini bisa terus berkelanjutan,” kata Damra, Ketua Pengprov Sumatera Barat.

Sementara itu seusai terpilih kembali, Martuama Saragi menyatakan kesanggupan untuk menjalankan amanah Munas Pesti 2018.

“Terimakasih atas kepercayaan kembali memimpin Pesti ini. Mari kita menyatukan langkah, visi dan misi untuk membangun soft tenis Indonesia agar mampu meraih prestasi nasional dan internasional,” ungkap Martuama Saragi.

Belum sempat menyusun ulang kepengurusan Pesti, Martuama sudah akan berhadapan dengan ajang akbar, Asian Games 2018 yang bakal berlangsung di Palembang, akhir bulan ini.

“Sejumlah ujicoba telah dijalani tim Pelatnas Soft Tenis Indonesia menuju Asian Games dengan hasil memuaskan. Semoga pemain dapat terus menjaga puncak penampilan mereka hingga hari pertandingan,” ujarnya.

Soft tenis memberi sumbangan sekeping medali perak dari nomor tunggal putra dari ayunan raket Edi Kusdaryanto dan sekeping perunggu ganda campuran atas nama Prima Simpatiaji/Maya Rosa pada gelaran Asian Games 2014 di Incheon, Korea.

Saat ini, Pesti mencanangkan target bisa mendulang satu emas, satu perak dan dua perunggu di Asian Games 2018.(tribunnews.com)

David Agung Susanto/Kim Cheong Eui Tempati Posisi Runner-up Combiphar Tennis Open 2018

REMAJA-TENIS.COM,JAKARTA – Pasangan Indonesia dan Korea, David Agung Susanto/Kim Cheong Eui harus puas berada di posisi runner-up Combiphar Tennis Open 2018, Sabtu (4/8/2018).

Pada laga final turnamen seri kedua Indonesia ITF Men’s Future di Lapangan Tenis The Sultan Hotel Jakarta, ganda non-seeded itu kandas di tangan duet asal Jepang, Sho Shimabukuro/Kaito Uesugi.

David/Kim kalah straight set dari lawan yang menempati unggulan keempat itu dengan skor akhir 3-6 6-7(4).

“Lawan memang bermain lebih baik, mereka solid baik di depan maupun belakang,” ungkap David usai laga berdurasi 70 menit itu.

Kendati gagal merebut gelar juara, David tetap memandang positif hasil pertandingan puncak nomor ganda ini.

“Ini bekal yang bagus menuju Asian Games, apalagi lawan yang kami hadapi di final ini merupakan ini juga merupakan wakil Jepang di ajang itu,” tutur David yang bakal membela Merah Putih di Asian Games pada nomor ganda putra bersama adiknya, Anthony Susanto dan mix doubles dengan Jessy Rompies ini.

Setelah merengkuh gelar juara ganda, Kaito Uesugi mempunyai peluang untuk memboyong sekaligus juara tunggal turnamen yang menyediakan hadiah total 15.000 dollar AS atau sekitar Rp 210 juta ini.

Pada final tunggal, Minggu (5/8). peringkat single ke-821 dunia yang menempati posisi unggulan keenam ini bakal menguji ketangguhan seeded kelima asal Autralia, Jeremy Beale (799)

Combiphar Tennis Open 2018 terdiri dari tiga seri Indonesia Men’s Future, merupakan turnamen yang masuk dalam kalender kompetisi resmi Federasi Tenis Internasional (ITF).

Event yang didukung oleh Combiphar, sebuah perusahaan modern healthcare di Indonesia ini telah bergulir sejak 2016. Tahun ini, turnamen ini menyediakan total hadiah 55.000 dollar AS atau sekitar Rp 770 juta. (tribunnews.com)


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media