TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...... .....REMAJATENIS BANDUNG 13-15 APRIL 2018........REMAJATENIS BANTUL 27-29 APRIL........REMAJATENIS JAKARTA-70 4-6 MEI 2018......... MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Sandiaga Peringatkan Dispora dan KONI Untuk Selesaikan Gaji Para Atlet

REMAJA-TENIS.COM,JAKARTA- Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno memberi waktu dua minggu kepada Dinas Pemuda dan Olahraga dan KONI DKI Jakarta untuk segera menyelesaikan permasalahan gaji para atlet DKI.

Menurut Sandiaga, permasalahan gaji atlet harus segera diselsaikan. Dia tak ingin atlet kecewa dan akhirnya pindah membela provinsi lain di PON Papua 2020.

“Saya berikan target dua minggu untuk Kadispora dan KONI untuk menyelesaikan ini. Karena ini sudah saya dengar mulai Minggu lalu, kalau dalam dua minggu belum selesai, saya yang akan selesaikan sendiri,” ujar Sandiaga di Balai Kota DKI, Rabu (4/4/2018).

Sandiaga menambahkan, Pemprov DKI telah menganggarkan Rp 20 miliar untuk KONI DKI Jakarta untuk pembinaan atlet. Dana tersebut, kata Sandiaga, sebagian telah dicairkan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Gedung Dinas Teknis, Jalan Abdul Muis, Selasa (13/3/2018). KOMPAS.com/JESSI CARINA Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Gedung Dinas Teknis, Jalan Abdul Muis, Selasa (13/3/2018).

“Sudah cair untuk yang sudah terverifikasi nama dan rekening nya, tapi yang belum berarti saya meminta para pengurus cabor untuk langsung berkoordinasi dengai KONI dan juga Kadispora,” kata Sandiaga.

Jelang pelaksanaan PON 2020 di Papua, KONI DKI dipusingkan seretnya dana pembinaan yang berimbas pada banyaknya atlet yang berpindah ke daerah lain.

Hal itu diungkapkan Djamhuron dari KONI DKI dalam acara rapat kerja Provinsi Persatuan Renang Seluruh Indonesia (Raker Prov PRSI) DKI, Sabtu (31/03/2018).

Dia menyebutkan, ketiadaan anggaran dari APBD DKI 2018 telah membuat beberapa cabang olahraga harus merogoh kocek sendiri sebagai dana operasional.(kompas.com)

Priska Madelyn Nugroho Juara ITF China Junior 6 Grade 3

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Sementara dua petenis putri senior Indonesia, Aldila Sutjiadi dan Deria Nur Haliza sedang bertanding di turnamen tenis ITF Women Circuit 15K Nanjing, China, petenis putri yunior Indonesia, Priska Madelyn Nugroho juga berlaga dan bahkan menorehkan prestasi gemilang di negeri China.

Priska berhasil meraih gelar juara pada turnamen China Junior 6 Grade 3 yang digelar mulai 27 hingga 31 Maret 2018 di Chengdu Sichuan, China.

Berdasarkan informasi yang kami dapat dari situs resmi ITF Tennis, Priska Madelyn Nugroho merengkuh gelar juara setelah pada partai final berhasil mengalahkan petenis tuan rumah Zheng Hua Xiao.

Priska yang pada turnamen ini diunggulkan di posisi 7, mengandaskan perlawanan Zheng Hua Xiao yang merupakan unggulan ke 4 dalam laga yang berlangsungsung ketat dan berkesudahan dengan skor 6-2, 5-7 dan 7-5.

Sebelumnya, di babak semifinal, Priska Madelyn Nugroho, petenis yunior kelahiran tahun 2003 itu berhasil membekuk petenis Korea Selatan, Sim Chae Hyun dalam dua set langsung dengan skor kemenangan 6-4 dan 6-1. (aryanatennis.blogspot.com)

Johannes Susanto: Kejuaraan Tenis TDP Tiga Hari Tetap Dapat Poin

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA, er Terkait kegundahan orang tua atlet tenis yunior Indonesia terhadap pemberitaan salah satu media yang menyebutkan bahwa: “Mulai tahun ini, poin peringkat hanya dihitung dari 6 hasil terbaik masing-masing petenis. Dan hanya dari kejuaraan yang berlangsung seminggu penuh seperti Totalindo Purwokerto Open ini, bukan dari turnamen dua atau tiga harian,”… Kami mencoba konfirmasi langsung kepada Johannes Susanto selaku Ketua Bidang Pertandingan PP PELTI.

Menurut Johannes Susanto dalam pembicaraanya dengan kami melalui sambungan seluler pada Kamis, 5 April 2018, bahwa turnamen diakui Pelti (TDP) tiga harian tetap mendapatkan poin, akan tetapi jumlah poinnya lebih kecil dibandingkan dengan kejuaraan TDP yang berlangsung seminggu penuh.

Ketua Bidang Pertandingan PP PELTI itu sebelumnya juga memberikan keterangan yang beliau tulis di group WhatsApp (WA) Forum Komunikasi Tenis (FKT). Dalam keterangannya di group WA FKT tersebut, Johannes Susanto menuliskan sebagai berikut:

Pertama-tama pada berita sebelumnya ada salah kutip. Yang pasti seluruh point TDP dijumlahkan; yaitu J 1 – J 5 ( pertandingan 1 minggu ) dan J6 – J9 ( pertandingan khusus 3 hari) tetapi pemilihan pemain yang dipilih untuk ikut Master hanya diambil point dari 6 pertandingan terbaik. Logikanya point yang diperoleh TDP Khusus : J 6- J9 ( 3 harian) tidak masuk, karena point yang diperoleh relatif kecil. Maaf atas kesalahan kutip sehingga menimbulkan kerisauan. Semoga semua pihak dapat mengerti. Terima kasih atas perhatiannya. Dari Kabid Pertandingan PP PELTI.

Demikian keterangan yang kami peroleh baik melalui pembicaraan langsung via telepon maupun yang kami cuplik dari group WA FKT.

Untuk melengkapi informasi artikel ini, kami juga mencoba menghubungi August Ferry Raturandang atau yang biasa dikenal dengan sapaan AFR penyelenggara turnamen Remaja Tenis.
Menyambung dari bagian pertama artikel terkait kegundahan dan kerisauan sebagian orang tua atlet perihal poin kejuaraan Turnamen Diakui PELTI (TDP) tiga harian, pada bagian ini kami mencoba menggali informasi dari August Ferry Raturandang atau yang biasa dikenal dengan sapaan AFR penyelenggara turnamen Remaja Tenis.

Berikut adalah penuturan dan pendapat August Ferry Raturandang kepada kami melalui pesan singkat WhatsApp pada Kamis, 5 April 2018…

“Turnamen tiga hari (T3) lahir akibat kendala-kendala di turanamen 7 (T7) hari. Perihal poin perlu direvisi khusus T3 terlalu timpang.” ujar AFR diawal pembicaraan kami.

“Kualitas turnamen T3 tidak kalah dengan T7 karena turnamen T3 menggunakan ketentuan TDP yaitu the best of 3 tie breaker sets juga. Hanya saja T3 tidak mempertandingkan ganda. Justru bagi juara T3, hal itu lebih dituntut kerja berat karena seoarang atlet bisa bertanding 3 x sehari di nomor tunggal saja . Sementara T7 belum tentu yang juara ikut ganda sehingga hanya bertanding 1 x saja sehari.” tambah AFR lebih lanjut.

“Disamping itu, sistem kejuaraan tenis TDP Nasional yunior perlu direvisi. Kalau mau bicara kualitas maka sudah harus ada babak kualifikasi dan babak utama. Bisa dibayangkan bila size of draw 128 unggulan utama main 7 kali hingga juara. Mulai babak pertama melawan petenis yang levelnya masih dibawah maka akan buang-buang waktu saja.” jelas AFR lagi.

Menurut August Ferry Raturandang, Pelaku tenis (Indonesia) masih terbuai dengan Persami sehingga (tidak ada Referee, Wasit dan sistem pertandingan pro set) sehingga menganggap turnamen tiga hari (T3) identik dengan Persami.

August Ferry Raturandang atau yang sering dikenal dengan AFR, lebih jauh mengunggapkan pandangannya, “Ini turnamen pengembangan. Mulai dari pengembangan baru bicara prestasi. Lihat sekarang pengda ataupun pengcab sulit adakan T7 karena DANA( yang merupakan masalah klasik) dan juga kendala waktu yang tepat akibat dunia pendidikan (kurang) tidak mendukung olahraga. Kejar prestasi, atlet harus ikuti minimal 13 turnamen. Berapa hari harus bolos sekolah. Kalau T3 bolos cuma 1 hari bagi atlet luarkota tetapi tidak bagi atlet tuan rumah (main jam 13.00 setelah sekolah).

“Kenapa T3 bisa berkembang di Jakarta? karena tidak ada Persami sehingga dimanfaatkan bagi pemula.” ujar AFR dengan nada sedikit bertanya. ( www.aryanatennis.blogspot.com)

Turnamen Totalindo Purwokerto Dibuka

REMAJA-TENIS.COM,PURWOKERTO - Sejumlah petenis yunior papan atas nasional meramaikan turnamen bertajuk Totalindo Purwokerto Open di lapangan tenis GOR Satria Purwokerto, 2-8 April.
Mereka di antaranya penghuni peringkat nasional PP Pelti (PNP) teratas putra dan putri Kelompok Umur (KU) 16 tahun, Lucky Chandra Kurniawan (Sukoharjo) dan Niken Ferlyana (Blora), Adinda Satria Gamal (Kediri/PNP 4) dan Aurelya Chamsiayu (Sukoharjo/2) pada KU 14 serta M. Aji Faizal Nizam (Tulungagung/5) dan Joanne Lynn (Bandung/6) KU 12.

“Kami tengah membenahi pembagian kategori turnamen yunior serta sistem pemeringkatan petenis, sehingga mampu meningkatkan kualitas pembinaan usia muda,” tutur Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti 2017-2022, Johannes Susanto di arena kejuaraan pertama berstatus Turnamen diakui Pelti (TDP) di Bumi Panginyongan itu, Senin (2/4).

Dikatakan pula akan diselenggarakan Mastersnya akan diambil poin dari 6-8 turnamen J1-J5 yang berlangsung selama tahun ini.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Bupati Banyumas, dr. Budhi Setiawan menyatakan kegembiraan bahwa daerahnya dipilih menjadi tuan rumah kejuaran tenis yunior berlevel nasional.

“Semoga event ini menjadi titik awal bagi kemajuan olahraga tenis di Banyumas,” tuturnya dalam sambutan pembukaan ajang ini, Senin (2/4).

“Sementara ini, kami cukup bangga memiliki sarana lapangan tenis yang memenuhi standar penyelenggaraan turnamen nasional dulu. Pada masa mendatang tentu kami ingin ada petenis Banyumas yang mampu bersaing di ajang seperti ini,” lanjutnya.

Selain para unggulan, kejuaraan kategori J-5 ini menarik minat lebih dari 100 petenis yunior yang datang dari berbagai penjuru nusantara. Kubu tuan rumah selain wakil asal Purwokerto juga terdapat peserta dari wilayah eks Karesidenan Banyumas seperti Cilacap, Purbalingga dan Banjarnegara.
*

Christopher Rungkat Dipanggil Perkuat tim Piala Davis

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Petenis nomor 1 Indonesia, Christopher Rungkat kembali akan memperkuat tim Davis Indonesia saat melawan Sri Langka dalam play-off Grup 2 zona Adari degradasi ke grup sia Oceania tangal 7-8 April 2018 di Sri Lanka, Colombo. Pertandingan akan berlangsung di tanah liat Asosiasi Tenis Sri Lanka , Colombo.
Ini merupakan pertemuan kedua bagi kedua tim untuk menghindari degradasi ke grup 3 pada 2019. Pertemuan pertama terjadi di Solo yang Indonesia menang play off grup pada tahun 2016 lalu.

Kekalahan Indonesia dikandang sendiri dari Filipina membuka mata Pelti karena tanpa ikut serta Christopher Rungkat sulit untuk bisa menang. Menyadari hal itu, maka Christopher Rungkat dipanggil kembali untuk mempertahankan nama Indonesia diajang Piala Davis.

Ini bertentangan dengan keinginan Pelti sebelumnya untuk melakukan regenerasi disaat diawal tahun 2018 ini dengan tim petenis muda tanpa kehadiran Christopher Rungkat.

Perjalanan Christo untuk 11 tahun tampil di Piala Davis sejak debutnya pada 2007. Christo hanya kalah dari Bonit Wiryawanyang membela Indonesia selama 16 tahun, Gono Wijoyo dan Suwandi (14 tahn) dan Atet Wijono ( 13 tahun)

Keinginan Christo agar kehadiran penerusnya diajang Piala Davis, tetapi tim tenis Indonesia belum bisa meninggalkan ketrgantungan pada Christo. Walaupun awalnya sudah bertekad tanpa Christo melawan Filipina, yang akhinya gagal untuk menang.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media