TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ... ...SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1438 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. KEJURNAS AFR REMAJATENIS SUMSEL -XVI TGL 14-16 JULI 2017 DI PALEMBANG....,,,.KEJURNAS AFR REMAJA TENIS SULSEL-XI TGL 14-16 JULI 2017 DI MAKASSAR,,..., AFR REMAJATENIS KALTENG TGL 21-23 JULI 2017 DI PALANGKA RAYA ......JAKARTA-64 TGL 4-6 AGUTUS 2017 DI GOR RAWAMANGUN JAKARTA... REMAJA TENIS CIREBON 1-3 SEPT 2017 DI CIREBON . ................. UNTUK PETENIS INDONESIA, MENTAL YANG PALING PENTING, SERTA KELINCAHAN, MOBILITAS DAN DAYA TAHAN UNTUK MENEMBUS TINGKAT DUNIA... IKUTILAH WWW.REMAJATENIS.BLOGSPOT,COM ............ MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Li Na di Antara Dua Pria dan Ibunya


REMAJA-TENIS,Com, WUHAN – Petenis Tionkok Li Na telah memutuskan gantung raket ternyata masih menyisakan sederet kisah. Kali ini, perempuan 32 tahun itu mengungkapkan siapa saja orang-orang yang mempunyai pengaruh besar kepada karier tenisnya.

Tanggal 19 September 2014 merupakan hari pengumuman menutup karier tenisnya , dilakukan Li Na ini. Sudah merasa kondisi badan tak sanggup untuk bersaing dalam turnamen level atas. Ternyata ingin menjadi pebisnis adalah rencana Li Na ke depan.

Sambil berpamitan dengan meneteskan air mata, Li Na mengaku keputusan itu sudah bulat. Dia yakin tak akan menyesali pilihan itu. Sebab, dia merasa sudah memberikan upaya maksimal dalam menjalani karier di tenis. Apalagi jika kenanganan dia tentang kebencian kepada tenis di masa lalu.

Awalnya, Li Na mengenal bulutangkis lebih dulu ketimbang tenis. Ayahnya, Li Shengpeng, yang mantan pebulutangkis profesional, sudah memberikan latihan footstep dan refleks yang dibutuhkan seorang pebulutangkis sejak dia berusia enam tahun.

Setelah dua tahun kemudian, salah satu pelatih akademi tenis, Xia Xiyao, melihat Li Na mempunyai lengan yang kuat. Dia pun menyarankan agar Li Na beralih ke tenis. Bermodalkan dari bulutangkis menjadi nilai plus bagi Li Na. Li Na tak bisa menolak. Meski pada kenyataannya, Li Na tak pernah menyukai tenis. Dia tetap rindu memainkan bulutangkis.

Tapi, ada satu momen krusial yang akhirnya mengubah pendirian Li Na. ketika usianya 14 tahun, Li Na merasakan kesedihan tak terkira. Ayahnya meninggal dunia karena sakit kardiovaskular. Air mata kehilangan yang mendalam itu diiringi bayangan kesulitan finansial dalam keluarganya.

“Saya berpikir, sebagai perempuan yang sudah besar, kamu harus menjaga bisa menjaga ibu. Saat ayah meninggal saya cuma bisa mikir: satu-satunya peluang adalah kamu harus menjadi pemain yang oke,” ucap Li Na seperti dikutip AFP.

Comments are closed.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media