TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...... .....BANK MAYAPADA JUNIOR NATIONAL CHAMPS 2018 DI BANDUNG. 16-22 JULI 2018... REMAJATENIS & VETERAN BLORA 24-29 JULI DI BLORA....... MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Johannes Susanto: Kejuaraan Tenis TDP Tiga Hari Tetap Dapat Poin

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA, er Terkait kegundahan orang tua atlet tenis yunior Indonesia terhadap pemberitaan salah satu media yang menyebutkan bahwa: “Mulai tahun ini, poin peringkat hanya dihitung dari 6 hasil terbaik masing-masing petenis. Dan hanya dari kejuaraan yang berlangsung seminggu penuh seperti Totalindo Purwokerto Open ini, bukan dari turnamen dua atau tiga harian,”… Kami mencoba konfirmasi langsung kepada Johannes Susanto selaku Ketua Bidang Pertandingan PP PELTI.

Menurut Johannes Susanto dalam pembicaraanya dengan kami melalui sambungan seluler pada Kamis, 5 April 2018, bahwa turnamen diakui Pelti (TDP) tiga harian tetap mendapatkan poin, akan tetapi jumlah poinnya lebih kecil dibandingkan dengan kejuaraan TDP yang berlangsung seminggu penuh.

Ketua Bidang Pertandingan PP PELTI itu sebelumnya juga memberikan keterangan yang beliau tulis di group WhatsApp (WA) Forum Komunikasi Tenis (FKT). Dalam keterangannya di group WA FKT tersebut, Johannes Susanto menuliskan sebagai berikut:

Pertama-tama pada berita sebelumnya ada salah kutip. Yang pasti seluruh point TDP dijumlahkan; yaitu J 1 – J 5 ( pertandingan 1 minggu ) dan J6 – J9 ( pertandingan khusus 3 hari) tetapi pemilihan pemain yang dipilih untuk ikut Master hanya diambil point dari 6 pertandingan terbaik. Logikanya point yang diperoleh TDP Khusus : J 6- J9 ( 3 harian) tidak masuk, karena point yang diperoleh relatif kecil. Maaf atas kesalahan kutip sehingga menimbulkan kerisauan. Semoga semua pihak dapat mengerti. Terima kasih atas perhatiannya. Dari Kabid Pertandingan PP PELTI.

Demikian keterangan yang kami peroleh baik melalui pembicaraan langsung via telepon maupun yang kami cuplik dari group WA FKT.

Untuk melengkapi informasi artikel ini, kami juga mencoba menghubungi August Ferry Raturandang atau yang biasa dikenal dengan sapaan AFR penyelenggara turnamen Remaja Tenis.
Menyambung dari bagian pertama artikel terkait kegundahan dan kerisauan sebagian orang tua atlet perihal poin kejuaraan Turnamen Diakui PELTI (TDP) tiga harian, pada bagian ini kami mencoba menggali informasi dari August Ferry Raturandang atau yang biasa dikenal dengan sapaan AFR penyelenggara turnamen Remaja Tenis.

Berikut adalah penuturan dan pendapat August Ferry Raturandang kepada kami melalui pesan singkat WhatsApp pada Kamis, 5 April 2018…

“Turnamen tiga hari (T3) lahir akibat kendala-kendala di turanamen 7 (T7) hari. Perihal poin perlu direvisi khusus T3 terlalu timpang.” ujar AFR diawal pembicaraan kami.

“Kualitas turnamen T3 tidak kalah dengan T7 karena turnamen T3 menggunakan ketentuan TDP yaitu the best of 3 tie breaker sets juga. Hanya saja T3 tidak mempertandingkan ganda. Justru bagi juara T3, hal itu lebih dituntut kerja berat karena seoarang atlet bisa bertanding 3 x sehari di nomor tunggal saja . Sementara T7 belum tentu yang juara ikut ganda sehingga hanya bertanding 1 x saja sehari.” tambah AFR lebih lanjut.

“Disamping itu, sistem kejuaraan tenis TDP Nasional yunior perlu direvisi. Kalau mau bicara kualitas maka sudah harus ada babak kualifikasi dan babak utama. Bisa dibayangkan bila size of draw 128 unggulan utama main 7 kali hingga juara. Mulai babak pertama melawan petenis yang levelnya masih dibawah maka akan buang-buang waktu saja.” jelas AFR lagi.

Menurut August Ferry Raturandang, Pelaku tenis (Indonesia) masih terbuai dengan Persami sehingga (tidak ada Referee, Wasit dan sistem pertandingan pro set) sehingga menganggap turnamen tiga hari (T3) identik dengan Persami.

August Ferry Raturandang atau yang sering dikenal dengan AFR, lebih jauh mengunggapkan pandangannya, “Ini turnamen pengembangan. Mulai dari pengembangan baru bicara prestasi. Lihat sekarang pengda ataupun pengcab sulit adakan T7 karena DANA( yang merupakan masalah klasik) dan juga kendala waktu yang tepat akibat dunia pendidikan (kurang) tidak mendukung olahraga. Kejar prestasi, atlet harus ikuti minimal 13 turnamen. Berapa hari harus bolos sekolah. Kalau T3 bolos cuma 1 hari bagi atlet luarkota tetapi tidak bagi atlet tuan rumah (main jam 13.00 setelah sekolah).

“Kenapa T3 bisa berkembang di Jakarta? karena tidak ada Persami sehingga dimanfaatkan bagi pemula.” ujar AFR dengan nada sedikit bertanya. ( www.aryanatennis.blogspot.com)

Comments are closed.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media