TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...... .....SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1439 H MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN..........REMAJATENIS BANDUNG 22-24 JUNI 2018........REMAJA TENIS SUMSEL XVI 22-24 JUNI 2018......REMAJATENIS JAKARTA-71 TGL 29 JUNI-1 JULI 2018.............. MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

CATATAN TENIS 2014 : Mengejar Tanggung Jawab Prestasi


REMAJA-TENIS.Com, JAKARTA. Tidak mudah perjalanan Ketua Umum PP Pelti Maman Wirjawan memimpin induk organisasi tenis di Indonesia. Bukan hanya saat bertarung di Musyawarah Nasional Pelti (Persatuan Tenis seluruh Indonesia) tanggal 25 Nopember 2012 di Manado, tetapi juga setelah diumumkan susunan pengurus Pelti.

Perjalanan berliku liku sejak akhir Januari 2013 setelah pengumuman anggota kepengurusannya yang akan menopang sampai tahun 2017 mendatang, karena belum sempat adanya satu visi dan misi didalamnya. Maklum saja karena sebagai muka baru dipertenisan nasional dikeroyok oleh masyarakat tenis yang selaku pelaku pelaku aktif memberikan gambaran kebingunannya karena tidak mengenal secara baik personalia masing masing karena kelihaian mereka membuat kekaguman semata bagi dirinya. Dalam memilih angggota pengurus yang didasarkan masukan dari pihak pihak yang tidak puas terhadap kepengurusan lama, diberikan kereta angkutan mereka untuk membuktikan argumen argumen yang dimunculkan saat itu. Sehingga muncul kesan semua program yang berbau pengurus lama dihilangkan secara perlahan lahan dan membuat masyarakat tidak jelas , bertanya tanya tenis itu mau dibawa kemana. Contoh jelas adalah Kartu Tanda Anggota Pelti (KTA).

Mulailah terlihat bintik bintik keretakan sehingga masalah internal masih mengganjel ditahun pertama kepengurusannya. Jebakan jebakan dilakukan oleh masalah internal sehingga membuat rekan rekan di kepengurusan daerah mulai bertanya tanya karena ketidak jelasan dari program program yang belum diturunkan kebawah sampai menunggu terjadinya Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pelti 2013 sesuai diamanatkan oleh Musyawarah Nasional setiap tahun wajib dilaksanakan Rakernas tersebut. Ini perubahan ketentuan disepekati di Munas 2012 di Manado.

Catatan pertama, ambisi semangat kerja tinggi tanpa memikirkan kemampuan dari armada yang dipimpinnya, maka tanpa melalui suatu mekanisme organisasi, didaftarkanlah ke ITF (International Tennis Federation) sejumlah sekitar 20 turnamen Pro Circuit sebagai gebrakan pertama yang sangat beresiko. Untuk menciptakan citra yang positif terhadap kepengurusan baru ini maka semua turnamen internasional itu sudah langsung dicantumkan di Kalender TDP 2013. Benar jadinya sebulan sebelum hari H dari turnamen Pro Circuit yang didaftarkan, maka baru disadari kalau dana untuk kegiatan tersebut tidak ada karena belum sempat dicari ke sponsor sponsor. Disinilah kematangan dalam merancang program tidak dipikirkan baik baik karena belum sempat untuk mencari jalan keluarnya setelah didaftarkan tersebut.

Setelah kejadian pembatalan turnamen Pro Circuit berdampak terhadap citra dari luar negeri terhadap induk organisasi tenis di Indonesia mulai menurun dan lebih menyedihkan disaat membutuhkan dana justru kena denda dari ITF terhadap pembatalan tersebut yang tidak sesuai dengan prosedur ITF. Ketidak harmonisan didalam kepengurusan terjadi sudah. Akibatnya terlihat diawal tahun 2014, mundurnya Ketua Bidang Pertandingan dari jajarannya. Begitu juga beberapa anggota pengurus lainnya yang bukan dalam Pengurus Harian ikut mundur karena kecewa atas beberapa kebijakan selama tahun 2013.

Catatan kedua, adalah ulah oknum pengurus yang spesial ingin bertemu muka dengan Ketua Umum KONI Pusat diwakili oleh Wakil Ketua Umum KONI Pusat karena Ketua Umum KONI Pusat berhalangan. Kelicikan agar melawan hasil Munas 2012 ataupun Rakernas 2013 dilakukan tanpa disadari oleh Ketua Umum PP Pelti, dengan tujuan agar ketentuan perserta PON 2016 diubah menjadi bebas usia. Ini juga tanpa diketahui oleh Sekjen PP Pelti yang sedang diluar kota Jakarta.

Catatan ketiga, konflik antara Pelti dengan atlet yunior (Tami Grende) yang butuh dukungan muncul. Kontradiksi dengan keinginan Ketua Umum PP Pelti untuk menghasilkan atlet Indonesia berbicara di turnamen Grad Slam. Tami Grende sudah membuktikannya, tetapi justru antipati dimunculkan oleh Pelti sendiri, sehingga muncul kesan Tami tidak mau didukung oleh Pelti sendiri yang seharusnya dirangkul.

Catatan keempat, kegagalan tim putra Indonesia diajang multi event Asian Games Incheon 2014. Kesan yang didapatkan adalah untuk berdarmawisata ke Korea sehingga menghalalkan caranya. Tim manajer bersama pelatih yang juga merupakan anggota pengurus harian PP Pelti mengobar janji janji medali emas ke KOI tanpa didukung dengan data data yang ada. Minimnya pengetahuan terhadap peta kekuatan tenis di Asia dimodali dengan kepintaran bernegosiasi dengan KOI. Bisa dibayangkan kalau target medali emas itu dicetuskan dari ganda putra perorangan. Dengan sepengetahuan Tim manajer dan pelatih salah satu petenis ganda putra tersebut rajin try out sebagai bentuk tanggung jawabnya dengan menggunakan dana Pemerintah sedangkan rekannya yang didambakan , bertahan dikotanya untuk melatih atlet yunior, tidak ikuti try-in sekalipun. Sudah merupakan rahasia umum kalau atlet ganda tersebut sudah beralih profesi sebagai pelatih.

Catatan kelima, dalam kasus status peserta di Asean University Games 2014 di Palembang. Masuknya atlet “ Mahasiswa” jadi jadian hanya untuk mengejar prestise bukan prestasi. Hal ini diketahui juga oleh pihak lawan seperti diungkapkan kerekan di Indonesia. Disamping itu pula kasus tercorengnya nama tim tenis DKI Jakarta diarena PON Remaja-1 Jatim akibat Pelti tidak sebarkan nama peserta kedaerah daerah sebagai lazimnya multi event Pekan Olahraga Nasiona (PON) sehingga andalan DKI dicoret disaat technical meeting.

Yang jadi pertanyaan sekarang dimana tanggung jawab dari Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP Pelti.

Kendala komunikasi antar Pusat dan Daerah sudah mulai dikurangi dengan digelarnya Forum Diskusi dengan Pengda Pelti di akhir tahun 2014 di hotel Borobudur Jakarta. Optimisme sudah ditunjukkan sebelum Munas maupun setelah Munas . Yang harus dikejar sekarang adalah kepercayaan masyarakat tenis ataupun melalui Pengda Pelti yang memiliki suara dalam mendukung Ketua Umum PP Pelti Maman Wirjawan dalam Munas 2012. Perlu diingatkan lagi , sewaktu Munas 2012 masih banyak Pengda Pelti yang tidak mendukungnya, termasuk DKI Jakarta. (penulis August Ferry Raturandang)

Comments are closed.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media