TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...,,,,...SELAMAT IDUL FITRIE 1 SYAWAL 1440 H MOHON MAAF LAHIR BATHIN.......REMAJATENIS JAKARTA-81 14-16 JUNI 2019 DI LAPANGAN TENIS MARINIR CILANDAK JAKARTA........MEDCOENERGI JUNIOR CHAMPS 2019 DI PALEMBANG 24-28 JUI 2019................
Kumpulan Berita
Foto Pilihan
foto-rt-intan-payakumbuh foto-rt-jaffery-w foto-rt-kenneth_0

Bumi Nyiur Melambai Kini Punya Bintang Baru di Tenis

JAKARTA-(TribunOlahraga.com). Sulaweswi Utara seakan tak pernah habis dengan petenis berbakat. Daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai itu telah memunculkan salah satu petenis yunior potensial yang merupakan aset bangsa ke depan.Dia adalah Gioban Leon Rodich Lumenta.

Awal pemunculannya pun saat mengenal tenis diusia 8 tahun di kota Manado di tangan pelatih Joe Rumagit. Dilahirkan dari pasangan Yola Rantung dan Denny Lumenta pada 15 April 2004 di kota Manado nama Giovan langsung menjadi buah bibir di kalangan tenis Indonesia khusus untuk level usia muda.Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, berolahraga dan luar ruangan

Setelah hijrah ke Jakarta di usia 10 tahun dan ditangani pelatih Tjahjono selama 3 bulan dan berpindah ketangan pelatih lainnya, Sonny Ratag sampai saat ini, Gio telah memperlihatkan bakat tenisnya yang luar biasa.

Tidak sia-siap pula perjuangan Giovan selama berada di Jakarta berkat tekadnya ingin menjadi petenis professional kelak di kemudian hari.Sudah banyak atlet tenis asal Sulawesi Utara hijrah ke Jakarta tetapi akhirnya kandas dan pulang kampung kembali dengan sia sia.

Namun tidak demikian pada Giovan Leon Rodich Lumenta yang full committed dengan kehidupan tenis yang ditempuhnya. Di sinilah perlu mendapatkan perhatian penuh karena sebenarnya keberhasilan atlet itu ditentukan dari diri sendiri dan dukungan orangtua. Setiap atlet harus punya Goals dan dukunganpun harus mutlak juga dari orangtua. Tidak boleh cepat puas atas hasilnya sesaat sebagai pemicu dari kegagalan tersebut

Gio, demikian panggilan kepadanya saat ini masih terdaftar sebagai siswa SMP N 6 Manado sebagai modal dibidang pendidikan formalnya yang tidak mau ditinggalkannya.Gambar mungkin berisi: 1 orang, berolahraga

Banyak keuntungan didapatnya sejak berada di Jakarta karena saat itu di Jakartalah muncul kegiatan turnamen yunior setiap minggunya sehingga tiada hari tanpa turnamen. Momen ini betul-betul dimanfaatkan oleh Gio berkat tangan dingin pelatih Sonny Ratag ikut mendukung pembinaan seorang petenis muda Giovan Leon Rodich Lumenta untuk berprestasi dikemudian hari.

Ikut aktif mengasah permainannya mulai di kelompok 14 tahun kemudian 16 tahun dan 18 tahun dan semua itu membuahkan hasil.Tidak sia-sia perjuangan Gio yang saat ini dengan modal tinggi badan 169 cm cukup banyak membantu permainan tenis yang dimilikinya.

Salah satu modal adalah tidak tempramental sehingga bisa mengatasi dirinya disaat saat tertekan dalam permainan tenis karena diimbangi dengan tekad ingin menjadi petenis professional sebagaimana idolanya Alex De Minaur.

Oleh pelatih Sonny Ratag dikatakan kalau Gio ini sangat penurut dan mudah menerima apa yang diberikannya. ” Gio cukup cerdas menangkap apa yang dikehendaki pelatih.” ujar Sonny Ratag.

Tanggung Jawab Katua Umum Dana Pembinaan Cabang Olahraga

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Menpora Imam Nahrawi meminta cabang cabang olahraga memahami situasi di Kemenpora saat ini. Di tengah terbatasnya anggaran, Kemenpora sudah berusaha secepat mungkin untuk mencairkan anggaran tersbut. Hanya saja, sampai sekarang, prosesnya masih berlanjut,

Imam menegaskan, cabang diminta bisa mandiri karena anggaran dari pemerintah itu bersifat bantuan. Oleh karena itu cabang seharusnta mencari sumber anggaran sendiri diluar pemerintah. Cabang patutnya bisa lebih mandiri. ” Apa gunanya ketua umum cabang kalau mereka tidak bisa mencari sumber pendanaan untuk cabang yang dipimpinnya. Jangan sedikit dikit minta ke pemerintah. Paling tidak, manfaatkan momentum kepercayaan sponsor pada Asian Games 2018 untuk mencari sumber pendanan dari pihak sponsor.” kata Imam menegaskan.
Itulah cuplikan berita harian Kompas (15/02)

Keluhan datang dari cabang olahraga terhadap pendanaan yang terlambat itu merupakan lagu lama, demikian menurut August Ferry Raturandang selaku pemerhati olahraga kepada remaja-tenis.com, ” Saya sepakat dikatakan oleh Menpora. Buat apa ada Ketua Umum disetiap cabang olahraga. Kewajibannya untuk mencari dana pembinaan dicabang olahraga tersebut. Sudah tahu kewajiban ketua umum disaat mencalonkan diri saat Musyawarah Nasional atau Munas, begitu terpilih tidak ada aktivitasnya. Kelihatannya hanya numpang beken saja. ” ujar August Ferry Raturandang.

Masalah dana merupakan lagu lama didunia olahraga Indonesia. Ini sebagai pemicu keterlambatan prestasi olahraga Indonesia. Selanjutnya dikatakan sebaiknya pemerintah tidak perlu kuatir jika dalam multi event SEA Games 2019 nanti prestasi perolehan medali turun. ” Itu tanggung jawab dari cabang olahraga yang menargetkan kemampuan mendapatkan medali. Kecenderungan menjanjikan banyak medali agar dikirimkan ke multi event tersebut, tapi tanpa tanggung jawab terhadap kegagalannya nanti. Apa mau piknik dengan uang negara. .” ujarnya

Dikatakan pula mind set sudah harus dirubah, Jika tidak maka hasilnya setiap tahun sama saja. Yang jadi pertanyaan sekarang maukah pemerintah ikut merubah mind set petinggi petinggi olahraga ini.

Maksimalkan Potensi Tenis Daerah

REMAJA-TENIS.COM, PALEMBANG. Petenis daerah bisa menjadi kunci untuk mengatasi masalah prestasi nasional. Mengembangkan keanekaragaman petenis daerah dan menjadikan sebagai bagian pola pembinaan nasional bisa membantu mempercepat perbaikan prestasi nasional.

Sumatera Selatan yang saat ini telah memiliki sarana dan prasarana tenis terbesar di Indonesia sudah waktunya mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan tenis nasional. Harus diakui telah memiliki sarana dan prasarana terbesar telah diuji sebagai terbaik.

SEA Games 2011, ISG 2013 maupun Asian Games 2018 sebagai ajang pembuktian Jakabaring Sport City layak di gunakan sebagai Pusat Tenis Nasional.

So what? Kira2 dengan keberadaan Jakabaring Sport City yang memiliki 18 lapangan tenis terbuka pasca Asian Games 2018 dimanfaatkan oleh Pelti baik daerah maupun pusat untuk memegang julukan Pusat Tenis Nasional. Materi apa lagi yang dibutuhkan memenuhi kriteria sebagai Pusat Tenis Nasional.
Perlu dilengkapi dengan SDM atlet maupun pelatih. Kebutuhan pelatih kualitas nasional harus dulu dibuktikan oleh Sumsel.

Apakah Sumsel telah memiliki petenis potensial ? Kira2 demikian pertanyaannya bagi pembina tenis di Ibukota Jakarta.

Diam2 tanpa disadari salah satu kabupaten di Sumsel telah memiliki program pembinaan tenis yang berjalan sudah cukup lama. Bahkan dukungan pemerintah kabupaten Musi Banyuasin sehingga program tersebut berjalan dengan baik.

Salah satu atlet binaan PPLP Musi Banyuasin, Jonas Pratama ( 16 th) telah berhasil membuka mata pembina tenis di Jakarta. Bahkan sudah ada tawaran datang dari salah satu pelatih nasional untuk pindah ke training camp miliknya. Tetapi masih belum diterima oleh orangtuanya karena ada beberapa kekurangan yang dikuatirkan seperti sekolahnya yang belum bisa dijamin karena di Sekayu sekolahnya masih bisa berjalan bersama tenisnya. Disamping itu oula munculnya binaan PPLP menghasilkan Syahrul Ramadhan yang sudah waktunya berkembang seperti ikuti rekannya Jones Pratama.

Apakah kota Palembang tidak memiliki atletnya?

Ada beberapa klub setia dengan program latihannya. Yaitu ITTEC dan klub Baturaja yang mulai berkembang akhir akhir ini Tetapi ada juga klub lannya sudah non active akibat minimnya petenis binaannya.

ITTEC memunculkan Panji A Susilo yang sudah layak go international. Hanya saja kendala saat ini bagi dirinya adalah ada pilihan lain yaitu soft tennis atau tenis. Begitu pula dengan petenis putri binaannya sudah berjalan secara rutin dalam pembinaan setempat. Bahkan masih banyak lagi yang masih malu malu muncul akibat awalnya minim kegiatan dikota Palembang.
Klub Baturaja muncul Alfith Ridho yang sudah waktunya muncul ketingkat nasional.

Induk organisasi tenis atau Pelti sudah mendatangkan pelatih asing asal Belanda. Apakah pelatih tersebut bisa dimanfaatkan oleh pengda Pelti? Ini pertanyaan muncul dari rekan2 didaerah khususnya luar Jawa. Kesan yang muncul saat ini justru lebih cenderung dimanfaatkan oleh Pelti di Jawa dibandingkan oleh Pelti diluar Jawa.

Alangkah indahnya PP Pelti buat program kedaerah daerah dengan memanfaatkan keberadaan pelatih asing tersebut. Beberapa opsi bisa ditawarkan kepada daerah tersebut. Opsi pertama PP Pelti menanggung seluruh beaya pelatih asing tersebut yi honor, akomodasi dan transportasi dari Jakarta. Opsi kedua honor pelatih ditanggung PP Pelti sedangkan akomodasi dan transportasi ditanggung Daerah.

Sebenarnya pelatih asing itu sudah ditanggung kontraknya oleh Pelti Pusat sehingga tidak perlu lagi dibebankan oleh Daerah.

Yang menjadi masalah adalah Pengda Pelti menyiapkan dana beaya pelaksanaannya.

Pengda Pelti bisa mencari solusi pendanaan tersebut. Dengan cara sponsorship dan juga bisa dibebankan kepada peserta training oleh pelatih asing. Kehadiran pelatih asing kedaerah daerah diluar Jawa sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh PP Pelti sebelumnya. Sebaiknya bisa dilakukan oleh PP Pelti saat ini.

Sasarannya bisa untuk pengembangan pelatih daerah maupun atlet daerah. Mulai yang simpel yaitu Workshop didaerah dengan sasaran pelatihnya. Kemudian training camp untuk petenis yuniornya.
Selama berada di Indonesia pelatih asing yang sudah dikontrak dimanfaatkan untuk kegiatan Workshop di Jawa.
Sekarang yang jadi pertanyaan apakah ada kemauan dari Pelti Pusat yang memiliki program pembinaan nasional ? ( penulis August Ferry Raturandang,www.remajatenis.blogspot.com))

PP Pelti Adakan Seleksi Petenis Bulan Ini Untuk Berlaga di SEA Games

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA – Jelang SEA Games 2019, Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP Pelti) terlebih dulu menggelar seleksi pemain yang diadakan 19 Februari mendatang.

Setelah seleksi, para pemain yang terpilih akan menjalani pemusatan latihan nasional yang berada di kawasan Pejompongan, Jakarta.

“Kami akan panggil 10 petenis putra berdasar peringkat nasional mereka. Sementara untuk putri kami tunggu evaluasi Fed Cup kemarin,” kata Ketua PP Pelti, Rildo Ananda Anwar di Kantor Sekretariat PP Pelti, Senayan, Senin (11/2/2019).

Pelatnas sendiri akan diadakan tiga bulan sebelum SEA Games 2019 terselenggara.

Sementara itu, alasan mengenai pemilihan tempat pelatnas di kawasan Pejompongan, selain karena terdapat mess dari segi penyewaan juga lebih murah jika dibanding Stadion Tennis Indoor, Senayan.

“Saya pilih di sana karena ada penginapannya, ada dua lapangan juga. Kami sewa tapi dengan harga miring,” kata Rildo.

“Saya bisa saja minta terus latihan di GBK. Tapi suatu saat terkadang dipakai untuk pameran atau musik karena PPK GBK dituntut pemasukan. Jadi daripada bolak balik lebih baik dekat penginapan saja,” jelas Rildo.

Pelti saat ini sudah menyodorkan kebutuhan anggarannya kepada Kemenpora sebesar Rp 10 miliar. Jumlah itu untuk mengakomodasi empat kali uji coba di luar negeri.

“Evennya akan kami lihat. Intinya yang memungkinkan meningkatkan rangking petenis kami juga mendapat pengalaman,” ujarnya.

Hal lain mengenai peralatan, Rildo memastikan atlet mendapat dari sponsor ribasi mereka.

“Mereka ini kan adalah pemain yang memiliki sponsor masing-masing. Jadi kalau mengajukan biasa setahun dapat 4 sampai 6 raket,” katanya.(www,tribunnews.com)

Petenis Putri Indonesia Punya Modal Bagus Berlaga SEA Games

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA - Timnas Tenis Indonesia sukses mempertahankan keberadaan mereka di grup 1 Zona Asia Oceania pada kejuaraan Fed Cup 2019 di Astana, Kazakhstan.

Kepastian itu mereka dapatkan setelah mengalahkan Thailand pada babak play off dengan skor 2-1.

Kemenangan atas tim Asia Tenggara itu dinilai Petenis Putri Indonesia, Aldila Sutjiadi juga jadi bekal yang bagus jelang berlaga di SEA Games 2019.

Paspanya, ia sudah mengetahui kriteria petenis Thailand, begitu pun dengan petenis ternamanya yang tidak menutup kemungkinan bisa diturunkan di SEA Games 2019.

“Thailand sebenarnya ada satu pemain yang tidak ikut, yang nomor satunya peringkat 70. Saya sudah tahu permainan dia sih, waku ketemu di Hong Kong tahun lalu. Ya mungkin yang di turuninnya nanti mirip-mirip seperi dia. Tapi kan belum tahu siapa yang diturunkan single atau double,” ujar Aldila di Stadion Tennis Indoor Senayan, Jakarta, Senin (11/2/2019).

Sebelum berlaga di SEA Games, pemain yang berhasil menyabet medali emas di Asian Games lalu mengatakan ingin berlaga di beberapa kejuaraan internasional dulu.

Ia pun ingin mengasah kemampuannya di nomor single.

“Habis ini kita balik ke individual, jadi ya kita kemungkinan ada pertandingan di Jepang atau Australia,”

“Aku lihat dulu listnya kalau bisa. Maunya single dan double tapi kayaknya aku mau fokus di single dulu, kalau double kan tergantung peringkat juga,” pungkasnya.(www.tribunnews.com)


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media