TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ... ...SELAMAT IDUL FITRI 1 SYAWAL 1438 H. MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN. KEJURNAS AFR REMAJATENIS SUMSEL -XVI TGL 14-16 JULI 2017 DI PALEMBANG....,,,.KEJURNAS AFR REMAJA TENIS SULSEL-XI TGL 14-16 JULI 2017 DI MAKASSAR,,..., AFR REMAJATENIS KALTENG TGL 21-23 JULI 2017 DI PALANGKA RAYA ......JAKARTA-64 TGL 4-6 AGUTUS 2017 DI GOR RAWAMANGUN JAKARTA... REMAJA TENIS CIREBON 1-3 SEPT 2017 DI CIREBON . ................. UNTUK PETENIS INDONESIA, MENTAL YANG PALING PENTING, SERTA KELINCAHAN, MOBILITAS DAN DAYA TAHAN UNTUK MENEMBUS TINGKAT DUNIA... IKUTILAH WWW.REMAJATENIS.BLOGSPOT,COM ............ MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Memangkas Hambatan Birokrasi di Olahraga

REMAJA-TENIS.COM,JAKARTA – Sejumlah pengurus induk organisasi cabang olahraga mendesak pemerintah untuk memangkas hambatan birokrasi dan segera menetapkan pejabat definitif di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), khususnya yang bertanggung jawab terhadap peningkatan prestasi olahraga.

”Kita sudah tidak punya waktu, mengingat pelaksanaan Asian Games 2018 hanya tinggal sepuluh bulan,” kata Ketua Umum Indonesia Jetsport Boating Association (IJBA), Saiful Sutan Aswar.

Desakan yang sama dilontarkan Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Indonesia (PP PESTI) Arianto Amiruddin dan Ketua Bidang Usaha dan Dana Pengurus Besar Persatuan Basket Indonesia (PB Perbasi). Ketiganya memberikan keterangan pers secara terpisah, Minggu (29/10).

Mengutip Saiful Aswar, sejak Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) dibubarkan pasca hasil buruk kontingen Indonesia dalam SEA Games Kuala Lumpur Agustus lalu, tanggung jawab peningkatan prestasi atlet-atlet olahraga nasional kini ditumpukan pada pengurus pusat/pengurus besar (PP/PB) cabang olahraga. ”Kemenpora berperan sebagai fasilitator sekaligus menjalankan fungsi pengawasan, dibantu oleh KONI,” ujar Fully, sapaan karib Saiful.

Sinergitas antara Kemenpora dengan pengurus cabang olahraga (cabor) menjadi krusial, lanjut Fully, karena selama ini banyak program yang direncanakan oleh cabor tidak dapat berjalan dengan baik. ”Ada hambatan sistem administrasi dan birokrasi yang panjang serta kebijakan dalam hal penganggaran yang tidak sejalan dengan perencanaan cabor,” tuturnya. ”Sinergitas dapat terbentuk apabila hambatan birokrasi bisa dibuat sederhana dan bertanggung jawab,” imbuhnya.

Arianto Amiruddin menyatakan, salah satu posisi penting di Kemenpora yang ikut bertanggung jawab dalam peningkatan prestasi olahraga adalah Deputi IV yang, sejak Februari 2017, lowong dan diisi oleh pelaksana tugas (plt). Menilik urgensinya, Arianto berharap, posisi lowong tersebut segera diisi oleh pejabat definitif yang tidak saja berpengalaman, tapi juga memiliki rekam jejak bekerjasama dengan beragam induk organisasi olahraga.

”Pejabat tersebut seyogianya berasal dari internal (kementerian). Kenapa? Sudah tidak ada waktu lagi bagi pejabat eksternal untuk beradaptasi, belajar begitu banyak dan mengenal karakter semua cabor,” ujar Arianto. ”Kemenpora sebelum ini pernah memiliki Deputi IV yang berlatarbelakang akademisi, tapi malah kurang efektif,” timpal Fully.

Arianto menambahkan, selain berpengalaman menangani berbagai event olahraga, pejabat dari kalangan birokrasi juga berpengalaman dalam proses administrasi dan pencairan dana. ”Namun, yang terpenting bagi kami, dia harus mampu berkoordinasi, mau dan mampu melayani serta bekerjasama dengan kami. Ia juga harus siap kapan saja saat dibutuhkan,” jelasnya.

Sementara itu, Fareza Tamrella mengingatkan, pembubaran Satlak Prima salah satunya didasarkan pada kenyataan bahwa keberadaannya justru memperpanjang rantai birokrasi. Karenanya, tanpa Satlak Prima, ia berharap pengambilan keputusan di birokrasi nantinya dapat berlangsung lebih cepat dengan mekanisme yang tak rumit.

”Deputi baru Kemenpora, dengan demikian, tidak hanya dituntut mampu bekerjasama dengan cabor, tapi juga harus dapat meringkas dan memudahkan birokrasi,” tegas Fareza.

Fully Sutan Aswar berpendapat senada. Kata dia, cabor adalah organisasi yang mengelola para pahlawan olahraga. Ia punya beban dan target mengharumkan nama bangsa dan negara lewat capaian prestasi. Karena itu, hubungan harmonis pengurus cabor dan Deputi IV semestinya menjadi pertimbangan utama.

”Tak cukup hanya berbekal pemahaman terhadap olahraga, dia juga mesti memahami karakter dan kebutuhan cabor. Dalam waktu yang tersisa menuju Asian Games, tentu kami lebih memilih personal di kementerian yang mudah berinteraksi dengan cabor,” ujarnya.

Fully menolak membandingkan para kandidat dari sisi pribadi. Ia lebih menimbang ke soal kemampuan masing-masing dalam memanfaatkan waktu yang tinggal sepuluh bulan, dipotong puasa Ramadan, dan lain-lain. ”Kandidat dari luar tentu perlu waktu lebih panjang untuk mempelajari karakter dan kebutuhan para cabor. Sedangkan kandidat internal cenderung sudah lebih mengenal keseharian para cabor,” tuturnya. Jelasnya, cabor butuh pejabat yang mampu berinteraksi segera, agar waktu yang sudah sangat dekat dapat dioptimalkan dengan baik.

Untuk diketahui, ada tiga nama kandidat Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga yang diusulkan dan saat ini sedang digodok oleh Tim Penilaian Akhir (TPA). Mereka adalah Yuni Poerwanti (Plt. Deputi IV), Chandra Bhakti (Asisten Deputi Peningkatan Prestasi Olahraga), dan Mulyana (Kepala Lembaga Penelitian Universitas Negeri Jakarta).(kompas.com)

Kisah Lucu Petenis Muda Dipaksa Ganti Celana Dalam di Turnamen Wimbledon

REMAJA-TENIS.COM,INGGRIS – Turnamen Wimbledon menyisakan kisah lucu yang baru saja menimpa petenis muda Jurij Rodionov berkewarganegaraan Austria.
Pasalnya petenis berusia 18 tahun ini dipaksa wasit untuk mengganti celana dalam setelah kedapatan memakai boxer berwarna biru.
Semua petenis yang bertanding di turnamen Wimbledonmemang diwajibkan memakai baju serba putih sejak tahun 1877, bahkan hingga pakaian dalam.

Wasit yang curiga dengan bayangan yang tampak di celana putih Rodionov meminta petenis asal Australia ini menurunkan sedikit celananya untuk melihat warna celana dalam Rodianov.

Ketika Rodianov kedapatan memakai boxer berwarna biru, sang wasit pun meminta panitia pelaksana membawakan celana ganti berwarna putih.

Pertandingan terpaksa ditunda selama 10 menit untuk menunggu Rodianov berganti celana dalam.

“Kemarin saya memakai celana dalam hitam dan tidak ada seseorang pun yang mempermasalahkannya. Hari ini saya memakai celana biru, dan tiba-tiba hal ini menjadi masalah. Ini merupakan kejutan besar bagi saya,” ucap Rodianov.
Untungnya peristiwa ini tidak mempengaruhi performa apik Rodianov, yang berhasil membawa kemenangan dalam pertandingan tersebut.(tribunnews.com)

Kejurnas Soft Tenis 2017: Fernando Sanger Boyong Gelar Tunggal Putra

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA - Atlet Sulawesi Utara, Fernando Sanger berhasil memboyong gelar juara tunggal putra Kejuaraan Nasional Soft Tenis 2017 yang berlangsung di Lapangan The Sultan Hotel & Residence Jakarta.
Pada laga final, Rabu (11/10), Daniel sukses menepiskan perlawanan wakil Daerah Istimewa Aceh, Indra Adhiguna 4-1.
“Sebenarnya saya nothing to lose saja menjalani pertandingan final tadi, namun sempat grogi di awal permainan,” ucap lajang kelahiran Tondano, 1 Oktober 1996 ini usai melakoni partai pamungkas berdurasi 45 menit itu.

“Setelah ketinggalan 0-1, pokoknya saya tahan saja agar tidak banyak melakukan unforced error atau mati sendiri. Ternyata strategi itu berhasil mengunci perolehan poin lawan,” imbuh anggota TNI AD berpangkat Sersan Dua ini.
Sementara itu, Voni Darlina (DKI Jakarta) tak tertahankan untuk menggondol gelar terbaik nomor tunggal putri ajang yang menjadi agenda tahunan Pengurus Pusat Persatuan Soft Tenis Indonesia (PP PESTI) ini. Di final, Voni membekap wakil Sulut, Sharon Cornelia Watupongoh 4-0.
“Ada darah segar yang menggembirakan dari penyelenggaraan Kejurnas Soft Tenis 2017 ini, yakni gugurnya sinyalemen bahwa cabang olahraga ini dikuasai oleh mantan-mantan petenis nasional.
Buktinya, Sunu Wahyu Trijati, anggota tim tenis SEA Games dan Piala Davis Indonesia pun tak sanggup melewati babak penyisihan grup turnamen ini,” tutur Ferly Montolalu, Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PESTI.
Persiapan Asian Games 2018
Semifinalis Kejurnas Soft Tenis 2017, baik putra maupun putri bakal mendapat kesempatan untuk masuk Pelatnas Asian Games 2018.
Mereka akan bersaing dengan sepuluh atlet yang telah menghuni skuad tim Merah Putih yakni Prima Simpatiaji, Elbert Sie, Irfandi Hendrawan,Gusti Jaya Kusuma dan Hemat Bakti Anugrah (putra) serta Dwi Rahayu Pitri, Angelica Irena Lontoh, Anadeleyda Kawengian, Dede Tari Kusrini, dan Siti Nur Arasy (putri).
“Selain semifinalis Kejurnas, PP PESTI juga memberikan tiga wildcard untuk mengikuti Seleknas bagi atlet muda potensial. Ketiganya terdiri dari dua putra yaitu Rizky Saputra dari Sumatera Barat dan Wesley Viananta asal Kalimantan Timur serta seorang atlet putri wakil Jawa Tengah, Aulia Risma di ajang Seleknas, 15-16 Oktober,” ucap Arianto Amirudin, Sekretaris Umum PP PESTI.
Kejurnas Soft Tenis 2017 masih akan berlangsung hingga Sabtu (14/10) dengan menggelar pertarungan nomor ganda, baik putra maupun putri serta campuran.(tribunews.com)

Hasil Final Tunggal, Rabu (11/10)
Putri
Voni Darlina (DKI) v Sharon Cornelia Pongoh (Sulut) 4-0
Putra
Fernando Sanger (Sulut) v Indra Adhiguna (Aceh) 4-1

TENIS : TINGGAL MENUNGGU HARI

REMAJA-TENIS.COM, Jakarta, 10 October 2017. Tidak disangka sangka pertenisan Indonesia dlm masa penentuan nasib bagi pemangku keputusan kebijakan kebijakan masa depan . Tepatnya tgl 25 November 2017 dikota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Acara Musyawarah nasional Pelti. Tinggal menunggu hari Karena sisa waktu 46 hari.
Kesepian melanda suasana masyarakat tenis yang saat ini menunggu nasib pertenisan Indonesia sesuai dengan sepinya prestasi didapat oleh PP PELTI 2012-2017. Jadi tidaklah heran jika ketidak pedulian masyarakat tenis terhadap Musyawarah nasional Persatuan Tenis seluruh Indonesia atau PELTI.

Teringat 5 tahun silam tepatnya Agustus 2012 sudah ada calon Ketua umum PP PELTI yang diorbitkan melalui media massa yaitu nama mantan Atlet nasional yang membuat PP Pelti saat itu terbangun kesadarannya. Karena tidak rela jika tongkat estafet kepemimpinan jatuh kepada calon ketua umum mantan petenis nasional tersebut yang dianggap tidak layak memimpin induk organisasi.
Saat ini terlihat berbeda karena secara resmi masih malu malu calon calon yang akan maju.
Dalam pengamatan dilapangan baik mendengar dan melihat secara tidak langsung karena mendapat masukan dari para pihak.
Ada 2 calon yang secara diam diam sudah lakukan manuver ke masyarakat tenis Indonesia.
Kedua calon berasal dari BIROKRAT yang sebenarnya kurang dikehendaki oleh rekan rekan pemangku jabatan di Pengda Pelti. Nah jika tidak ada lagi calon yang datang dari swasta maka tidak ada pilihan lain yang bisa dilakukan.

Calon yang pertama dengan jabatan Irjen disalah satu kementerian sedangkan yang satu lagi adalah wakil menteri.

Latar belakang kedua belah pihak dari segi Tenis belaka. Mulai dari kepekaan terhadap tenis an sich. Calon pertama mantan petenis aktip karena sejak yunior aktip ikuti turnamen nasional dan bahkan saat inipun masih rutin latihan tenis. Bahkan pernah duduk sebagai Humas PB pelti 1996-2000 dibawah kepemimpinan Ketua umum PB Pelti Moerdiono.
Calon kedua tidak jelas latar belakangnya. Hanya info yang diberikan oleh tim suksesnya kalau senang tenis dan suka berlatih di htl Borobudur sehingga kurang dikenal masyarakat tenis.

Munculnya calon yg kedua akibat dari keinginan mantan ketua umum PB Pelti 1998-2002 yang prihatin terhadap pertenisan Indonesia saat ini

Dari latar belakang kedua calon yang jelas maupun kurang jelas sebenarnya faktor terpenting adalah dibutuhkan motivasi yang tulus dari diri sendiri ingin benahi pertenisan yang lagi terpuruk bahkan istilah yang diberikan oleh tim sukses salah satu calon adalah dalam Tenis Indonesia dalam posisi rata dengan tanah. Artinya siapapun yang akan jadi kelanjutan kepengurusan sudah lebih mudah. Apakah benar demikian? Atau semangat awal begitu tinggi karena desakan pihak luar sehingga berani ambil alih tanggung jawab dari Maman WIrjawan untuk 5 tahun mendatang.

Ada kekuatiran besar ditangan pemegang suara di Munas Pelti adalah ditengah jalan justru sebaliknya. Bisa diberikan peringatan yang secara gamblang disampaikan karena kedua calon ini berasal dari birokrat. Pertanyaan timbul adalah jika keduanya sudah tidak lagi
memangku jabatan apakah masih mau atau bisa mencari dana tersebut. Pertanyaan muncul ada dasar nya. Yaitu pengalaman sewaktu Ketua
Pelti sebelumnya ada 3 Ketua umum yang dalam perjalanannya awalnya masih menjabat menteri kemudian separuh jalan lengser dari menteri. Setelah ketiga Mentari tersebut yang hanya mampu satu periode sadar atas kemampuannya. Kemudian masuk sosok swasta Martina Widjaja yang bisa berlangsung dua periode.
Pengalaman seperti ini menghantui pemegang suara yaitu Pengda Pelti yang saat ini mayoritas pernah mengalaminya.
Sebenarnya yang dibutuhkan seorang Ketua umum PP Pelti adalah sebagai entrepreneur sehingga bisa buat terobosan terobosan yang bisa mengangkat pamor tenis sendiri. Bukan hanya mengorbitkan seorang petenis dunia. Tetapi bagaimana bisa jadikan tenis suatu pertunjukan yang menarik sehingga masyarakat awampun bisa tertarik. Begitu pula bisa kembangkan Tennis is Business. Semaraknya dunia bisnis tenis maka bisa menghasilkan pembinaan yang merata. Sehingga lebih mudah mengorbitkan petenis dunia. Disamping itu selama ini yang selalu digembar gemborkan adalah figur yang mau keluarkan dana pribadi. Disinilah letak kekeliruan tersebut. Saya pernah kemukakan hal ini dalam wawancara dengan Radio BBC bebarapa tahun silam.
Figur yang dibutuhkan adalah yang mampu mengcreate dana operasional yang cukup besar sebagai modal kerja membisniskan tenis sendiri.
Waktu sudah tinggal 46 hari. Kedua calon sudah lakukan manuver kedaerah daerah dengan gunakan medsos sehingga tidak diketahui masyarakat tenis. Ada perbedaan pendekatan dari kedua calon. Jika calon yang pertama lebih kependekatan langsung program Pelti sedangkan calon yang kedua hanya melalui tim suksesnya saja yang belum dikenal oleh Pengda menggunakan telpon belaka. Perbedaan pendekatan seperti ini sangat menonjol sehingga tidak diketahui masyarakat membuat masyarakat yang Ingin Ikut memantau dibuat tidak berdaya. Ketidak tahuan Pengda terhadap kedua calon cukup mengkhawatirkan jika salah memilihnya
Kalau 5 tahun silam menjelang Munas 2012 beberapa bulan sebelumnya sudah muncul. 3 calon Ketua umum PP PELTI. Dan diberitakan dimedia massa.

Melihat situasi seperti ini sudah keluar dari harapan Pengda terhadap birokrat. Tetapi oleh promotor dari calon saat ini beranggapan kalau swasta yang tanggung justru tidak menjual . Sudah terbukti saat ini sosok Maman WIrjawan sulit mencari sponsor. Tetapi sebenarnya adalah motivasi yang Tulus merupakan kunci keberhasilan sehingga tetap konsisten untuk fight terhadap tenis ditambah lagi jika tidak berkelut dengan tenis dalam kesehariannya .
Disamping kedua hal diatas maka untuk calon pemimpin harus ada leadership sehingga conflict internal bisa diatasi. Pengalaman sejak Pengurus Besar kemudian menjadi pengurus pusat Pelti ketiga ketua umum yang saat menjabat menteri kmd lengser menteri disetengah kepengurusannya sudah tidak dilirik lagi bahkan oleh pengurus lainnya yang awal kepengurusan masih menghormatinya. Ironisnya demikian di PELTI sendiri.
Saat ini oleh Pengda Pelti sendiri menganggap kedua calon tersebut adalah pilihan terbaik dari yang terburuk.
Sehingga butuh waktu untuk memilih yang mana yang terbaik melalui pengenalan visi dan misinya. Jangan baru dikenal saat Munas. Yang perlu adalah dialog dengan Pengda langsung oleh calon calon sendiri karena calon Ketua umum ini bukanlah boneka dari tim sukses yang banyak unsur conflict of interest.

Jadi sebaiknya jangan sampai memilih kucing dalam karung. Selamat memilih yang terbaik sesuai hati nurani. ( penulis August Ferry RATURANDANG)

Maria Sharapova Kandas di Cina Terbuka

REMAJA-TENIS.COM, BEIJING- Apes nasib petenis putri cantik asal Russia saat ini dalam upaya menjadi petenis nomor satu dunia. Simona Halep menaklukkan Maria Sharapova dengan skor 6-2, 6-2 pada putaran ketiga Cina Terbuka pada Rabu, untuk menjadi kemenangan pertamanya atas petenis Rusia itu dalam delapan pertemuan.

Simona Halep, yang kalah dari Sharapova pada putaran pertama AS Terbuka, memenangi lima dari sembilan break point dan memaksimalkan sejumlah kesalahan lawannya untuk memberikan kekalahan straight set perdana bagi petenis Rusia itu dalam waktu lima jam 12 menit, lapor Reuters.

Maria Sharapova memukul lebih banyak pukulan “winner” atas rivalnya, tetapi Sharapova melakukan 39 unforced error dan kesulitan mengatasi kekuatan dan agresifitas unggulan kedua itu di Beijing.

Petenis Romania itu melaju ke perempat final, di mana ia akan berhadapan dengan unggulan ke-11 Agnieszka Radwanska atau Daria Kasatkina, yang akan bertemu pada Rabu malam.

Juara Prancis Terbuka Jelena Ostapenko asal Latvia melangkah lebih dekat ke ajang penutup musim WTA Finals di Singapura, dengan kemenangan 6-3, 7-5 atas petenis Australia Samantha Stosur di putaran kedua.

Petenis lain yang juga melaju ke putaran ketiga adalah wakil China Peng Shuai, yang menang 6-3, 6-2 atas petenis Romania Monica Niculescu, dan juara Wuhan Terbuka Caroline Garcia asal Prancis yang menang 7-6(4), 6-4 atas petenis Belgia Elise Mertens.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media