TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... JUARA .KEJURNAS AFR REMAJATENIS SULSEL-IX DI MAKASSAR .... FEBBYARO RIBY (DKI JAKARTA, KU 10 PI), M.RAISYA AZZAKI ( MAKASSAR 10 PA), ANNISA AZZAHRA (BALIKPAPAN 12 PI), MUH. ALIEF R (MAKASSAR 12 PA), NOVIA RAHMADHANI (BALIKPAPAN 16 PI), OSCARLINO HALIM ( MAKASSAR 16 PA), MUH RINALDY NB (PALOPO 18 PA).... ... ...KEJURNAS AFR REMAJATENIS JAKARTA-59 TGL 13-15 JANUARI 2017 DI GOR RAWAMANGUN JAKARTA ................. UNTUK PETENIS INDONESIA, MENTAL YANG PALING PENTING, SERTA KELINCAHAN, MOBILITAS DAN DAYA TAHAN UNTUK MENEMBUS TINGKAT DUNIA (AFR) ............ MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Li Na Duta WTA Tour Finals


REMAJA-TENIS.Com,SINGAPURA. – Mantan petenis Tiongkok, Li Na dirunjuk sebagai duta untuk turnamen akhir musim WTA tour Finals yang akan berlangsung di Singapura.

Mantan pemian berusia 32 tahhun ini sebenarnya lolos sebagai peserta untuk turnamen yang akan berlangsung 17-26 Oktober ini. Namun ia memutuskan mengundurkan diri dua pekan silam karena alasan cedera lutut yang kronis.

Juara dua turnamen grand slam yaitu Austrakia Terbuka dan Perancis Terbuka ini dalam turnamen tahunan WTA ini. Singapura akan menjadi tuan rumah ajang ini untuk lima tahun ke depan.

“Ini merupakan kesempatan terbaik buat para penggemare dari seluruh dunia untuk berdekatan dengan seorang legenda tenis yang telah menginspirasi bangsanya dan perkembangan tenis di Asia Pasifik,” kata ketua WTA dab CEO Stacey Allaster.

“Ia telah menginspirasi satu generasi para gadis muda di kawasan Asia Pasifik dengan harapan mereka pun akan bermain di WTA Finals.”

Delapan petenis peringkat terbaik dunia di nomor tunggal dan ganda akan tampil di Singapura. Sebelum Singapura, negara Asia lainnya yang pernah menjadi tuan ruamah adalah Qatar(kompas.com).

Edi Kusdaryanto Sumbang Perak dari Soft Tennis ASIAN GAMES 2014


REMAJA-TENIS.Com, INCHEON – Edi Kusdaryanto menyumbangkan medali perak dari cabang olah raga soft tenis di nomor tunggal putra.

Di final, dia kalah dari atlet tuan rumah Korsel Kim Hyeongjun 0-4 di Asian Games 2014 Incheon, Korsel, Selasa (30/9).
Pada pertandingan final yang berlangsung di lapangan tenis Yeorumul, Incheon itu Edi cukup kesulitan menghadapi lawan dan harus menyerah dengan skor telak 0-4, 2-4, 0-4, 0-4, 2-4 dalam pertandingan yang memakan waktu cepat 15 menit.

Sebelum melangkah ke final, di hari yang sama Edi Sudaryanto menghentikan langkah petenis Tiongkok Zhou Mo dalam semifinal dengan skor 4-1.

Petenis Tiongkok itu sempat mencuri satu set dalam waktu 18 menit pertandingan, ketika Edi menundukkan lawannya dengan kemenangan 4-1, 4-1, 5-3, 4-2, 4-6, 5-3.

Sementara di nomor tunggal putri, petenis Indonesia Maya Rosa Ariana Stefanie harus tersingkir oleh petenis Tiongkok Chen Hui dengan skor 0-4.(tribunnews.com)

Berbagai reaksi muncul ketika Tim Tenis Gagal Bawa Medali Asian Games Incheon


REMAJA-TENIS.Com, INCHEON. Kepastian tim Indonesia diajang Asian Games Incheon gagal pulang dengan bawa medali akhirnya terwujud sudah dengan kekalahan ganda putra Christopher Rungkat/Elbert Sie ditangan petenis Chinese Taipei Ti Chen/Hsien Yi Feng dalam dua set langsung 4-6 4-6.

Pasangan Christopher Rungkat dan Elbert Sie digadang gadangkan sejak awal oleh PP Pelti bisa membawa medali emas, ternyata hanya mampu sampai babak kedua. Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Donald Wailan Walalangi beberapa kali menyampaikan optimismenya , namun langkah pasangan Indonesia ini sudah terhenti ketika baru mencapai babak kedua. Nasib yang sama dialami rekannya Aditya Hari Sasongko/David Agung Susanto yang terhenti langkahnya ditangan pasangan tuan rumah Yongkyu Lim/Hyeon Chung 5-7 1-6.

Sedangkan disektor tunggal, langkah Christopher Rungkat terhenti dibabak ketiga ditangan petenis muda asal India Yuki Bhambi 3-6 3-6 sedangkan David Agung Susanto takluk dibabak kedua dari petenis Tiongkok Wu Di 1-6 1-6. Awal dari kekalahan mulai dari event beregu, tim Indonesia kalah telak 3-0 ditangan Thailand.

Mantan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP Pelti Diko Moerdono yang juga mantan team manager tenis diajang Asian Games , menyampaikan keheranannya kepada Donald Wailan Walalangi yang mantan petenis nasional tidak bisa melihat peta kekuatan tenis di Asia.

“Tim sekarang juga mantan tim asuhan saya dulu yang sudah menurun pretasinya. Kok berani beraninya pasang target medali emas. Saya waktu persiapan Asian Games Qatar dalam rapat KONI Pusat pernah menarik tenis diikuti sertakan dalam Asian Games kalau ditargetkan medai emas Tapi akhirnya tenis diberngkatkan juga oleh KONI dulu. Siapa itu pelatih Roy Therik sebagai pelatih tim , saya tidak kenal dia. Itu pelatih dari mana?. ” ujarnya per tilpon.

“Kalau Maman Wiryawan saya tahu dia bukan petenis, tapi yang namanya Donald Wailan Walalangi, itukan mantan petenis nasional. Apa dia buta tidak tahu peta kekuatan tenis di Asia? ” ujarnya

Persiapan tim tenis menjelang Asian Games sangat memprihatinkan, demikian menurut pengamat tenis August Ferry Raturandang.”Saya tidak heran kalau bisa gagal, padahal diperorangan ini banyak petenis top Asia tidak turun. Karena persiapannya amburadul saja sehingga bisa gagal.” ujarnya.
Setelah menang di Davis Cup melawan Hongkong di Jakarta, hanya Christopher Rungkat dan David Agung Susanto yang lakukan try out keluar negeri ikuti turnamen kelas Pro-Circuit ($ 10,000), sedangkan Aditya dan Elbert Sie hanya di Indonesia. Bahkan Elbert Sie tidak terlihat ikuti kejuaraan nasional di Indonesia karena sibuk melatih di Bandung.

“Siapa yang bertanggung jawab disini? ” ujar Johannes Susanto, Wakil Ketua Pengda Pelti DKI Jakarta. Johannes Susanto mempertanyakan kriteria pelatih yang ditunjuk menangani tim nasional. “Itu pelatih yang ditunjuk adalah pelatih klub di Jakarta yang nangani anak2 baru belajar.” ujar Santo (nama panggilan Johannes Susanto). Dianjurkan sebaiknya Wailan mundur saja dari Ketua Bidang Pembinaan Prestasi maupun Roy Therik sebagai pelatih tim nasional. Dikatakan pula banyak pelatih bersertifikat Internasional di Jakarta yang layak menangani tim nasional. “Kalau ini dibiarkan maka tenis Indonesia masuk jurang.” ujarnya pua.

Li Na di Antara Dua Pria dan Ibunya


REMAJA-TENIS,Com, WUHAN – Petenis Tionkok Li Na telah memutuskan gantung raket ternyata masih menyisakan sederet kisah. Kali ini, perempuan 32 tahun itu mengungkapkan siapa saja orang-orang yang mempunyai pengaruh besar kepada karier tenisnya.

Tanggal 19 September 2014 merupakan hari pengumuman menutup karier tenisnya , dilakukan Li Na ini. Sudah merasa kondisi badan tak sanggup untuk bersaing dalam turnamen level atas. Ternyata ingin menjadi pebisnis adalah rencana Li Na ke depan.

Sambil berpamitan dengan meneteskan air mata, Li Na mengaku keputusan itu sudah bulat. Dia yakin tak akan menyesali pilihan itu. Sebab, dia merasa sudah memberikan upaya maksimal dalam menjalani karier di tenis. Apalagi jika kenanganan dia tentang kebencian kepada tenis di masa lalu.

Awalnya, Li Na mengenal bulutangkis lebih dulu ketimbang tenis. Ayahnya, Li Shengpeng, yang mantan pebulutangkis profesional, sudah memberikan latihan footstep dan refleks yang dibutuhkan seorang pebulutangkis sejak dia berusia enam tahun.

Setelah dua tahun kemudian, salah satu pelatih akademi tenis, Xia Xiyao, melihat Li Na mempunyai lengan yang kuat. Dia pun menyarankan agar Li Na beralih ke tenis. Bermodalkan dari bulutangkis menjadi nilai plus bagi Li Na. Li Na tak bisa menolak. Meski pada kenyataannya, Li Na tak pernah menyukai tenis. Dia tetap rindu memainkan bulutangkis.

Tapi, ada satu momen krusial yang akhirnya mengubah pendirian Li Na. ketika usianya 14 tahun, Li Na merasakan kesedihan tak terkira. Ayahnya meninggal dunia karena sakit kardiovaskular. Air mata kehilangan yang mendalam itu diiringi bayangan kesulitan finansial dalam keluarganya.

“Saya berpikir, sebagai perempuan yang sudah besar, kamu harus menjaga bisa menjaga ibu. Saat ayah meninggal saya cuma bisa mikir: satu-satunya peluang adalah kamu harus menjadi pemain yang oke,” ucap Li Na seperti dikutip AFP.

BINTANG TENIS JEPANG Nishikori Tolak Penghargaan dari Pemerintah


REMAJA-TENIS.Com,HONGKONG – Petenis Jepang Kei Nishikori kembali menolak tawaran Honorary Prefectural Citizen oleh pemerintah Prefektur Shimane. Finalis Grand Slam Amerika Terbuka 2014 itu merasa belum layak menerima apresiasi tersebut.

Nishikori tampil cemerlang di Grand Slam Amerika Serikat Terbuka tahun ini. Petenis 24 tahun itu melenggang ke ke final seusai menggebuk petenis Serbia Novak Djokovic di semifinal. Torehan itu tak cuma menjadi pencapaian terbaik dia di turnamen tenis grand slam. Sukses itu sekaligus membuat dia menjadi petenis pria Asia pertama yang menjejak final Grand Slam.

Pemerintah kota kelahiran Nishikori di Prefektur Shimane pun berniat memberikan penghargaan. Sudah dua kali tawaran itu dilontarkan. Tapi, Nishikori menolak dua kali tawaran itu. Dia merasa penghargaan itu hanya layak diterima setelah menjadi juara.

“Itu penawaran yang kedua kalinya. Penghargaan itu menjadi penghormatan besar buat saya. Saya berada dalam jalur untuk mencapai tujuan saya,” kata Nishikori seperti dilansir detiksport mengutip CNN.

“Itu menunjukkan saya belum mencapai apapun. Saya rasa masih banyak hal yang harus saya selesaikan dan saya masih muda. Maka, saya pikir saya akan terima (penghargaan itu) kalau saya sudah bisa mendapatkan titel Grand Slam.

“Jalan ke sana sudah makin dekat karena saya nyaris mendapatkannya. Tapi saya paham mencapai semifinal Grand Slam sungguh berat. Bisa jadi memang masih jauh (jadi juara) tapi, anda tahu, saya sudah ada di top 10 sekarang dan saya saya benar-benar sampai di sini. Saya mempunyai cukup tenaga dan talenta untuk menggapai final so saya berharap bisa menjejak langkah serupa lagi suatu hari nanti,” beber dia.

Saat ini, Nishikori yang baru berusia 24 tahun ada di peringkat keenam Asosiasi Tenis Profesional Pria (ATP).(solopos)


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media