TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ..DAVIS CUP INDONESIA VS SRI LANKA 5-0........KEJURNAS AFR REMAJATENIS BANDUNG TGL 29 - 31 JULI 2016 DI GOR CARINGIN BANDUNG ...JUARA KEJURNAS REMAJATENIS JAKARTA-54 ADALAH RAINER SCHESTAK (KU 10 PA ASAL DKI), CYCLOVA ZULEYKA HUKMASABIYYA (KU 10 PI ASAL SERANG), M.NUR AL FACHRY (KU 12 PA ASAL CIANJUR),NURHADANAH S RINWAR (KU 12 PI ASAL MAKASSAR), CLAUDIO RENARDI LUMANAUW ((KU 14 PA ASAL DKI) , NAILAH SAFINA (KU 14 PI ASAL MAKASAR), AZMI JANUARSYAH (KU 16 PA ASAL JAMBI ),, ANA KAWENGIAN (KU 16 PI ASAL MANADO). ................. UNTUK PETENIS INDONESIA, MENTAL YANG PALING PENTING, SERTA KELINCAHAN, MOBILITAS DAN DAYA TAHAN UNTUK MENEMBUS TINGKAT DUNIA (AFR) .............. . ..... . CARA DAFTAR REMAJATENIS TERMUDAH DGN SMS ..0813 1031 1045..................... KEJURNAS AFR REMAJATENIS JAKARTA-55 TGL 15-17 JULI 2016 DILAPANGAN TENIS MARINIR CILANDAK JAKARTA SELATAN MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Priska Madelyn Nugroho Juara ITF Gr 5 di Vietnam


REMAJA-TENIS.COM, VIETNAM. Satu satunya petenis yunior asal jakarta yang berhasil keluar sebagai juara turnamen internasional ITF Gr 5 di Ho Chi Minh City, Vietnam yang berlangsung sejak 19-24 Juli 2016 adalah Priska Madelyn Nugroho. Petenis kelahiran 29 Mei 2003 ini berhasil kalahkan petenis asal Chinese Taipei Kua Yi Lee difinal 7-5 7-6(4) yang unggulan 6.

Priska awalnya imgin ikut bersama tema temannya di Singapore yang juga kelasnya sama ITF Gr5, tetapi karena tidak diterima sehingga memilih Vietnam yang bisa diterima dibabak utama.

PeMilihan yang tepat oleh Priska memungkinkan dia bisa bertanding. Menanggapi keberhasilan Priska, pelatih klub Detec dimana Priska berlatih mengatakan kalau Priska itu salah satu andalan anak didiknya. ” Dia baru 13 tahun, masih panjang perjalannannya kedepan. Asal dibina dengan baik maka Priska salah satu calon andalan menjadi petenis nasional.” ujarnya disela sela latihan di lapangan tenis GBK Senayan.

Priska pernah menjadi juara kelompok umur 12 tahun Kejurnas RemajaTenis bulan Mei 2012 di Keamayoran Jakarta.

Dihukum Dua Tahun, Maria Sharapova Ikuti Seminar Perusahaan di London


REMAJA-TENIS.COM. LONDON – Bintang tenis wanita asal Rusia, Maria Sharapova mulai mencari aktivitas lain di luar tenis usai dirinya dihukum dua tahun tak boleh bertanding.

Absen selama dua tahun membuat Sharapova harus mencari kegiatan lain di luar tenis untuk mengisi hari-harinya.

Baru-baru ini Sharapova tengah disibukkan dengan aktivitas bersama perusahaan periklanan di London.

Dalam sebuah seminar diselenggarakan oleh VCCP, perusahaan periklanan, di London, Sharapova hadir sebagai salah satu pesertanya.
Hal itu terlihat dari akun fans Sharapova yang mengunggah foto-foto idolanya menjalani aktivitas baru itu.

Dilansir di Daily Mail, petenis cantik itu dikabarkan akan menghabiskan waktu selama satu minggu untuk ikut kegiatan tersebut.(tribunnews.com)

Kejuraraan Tenis Junior Peltha Mayor 2016 Resmi Ditutup


REMAJA-TENIS.COM,MAKASSAR-. Kejuaraan Tenis Junior Peltha Mayor Cup 2016 resmi ditutup, Jumat (22/7/2016).
Kejuaraan yang memasuki tahun ke-19 ini kembali sukses melahirkan juara-juara petenis muda.

Aditya Rizky Tedja selaku Ketua Panitia penyelenggara bahkan menuturkan jika tahun 2016 ini kualitas atlet yang ikut serta mengalami peningkatan.

Terutama atlet Sulawesi Selatan yang turut ambil bagian dalam kegiatan ini.

Meski demikian Aditya mengungkapkan jika jumlah peserta secara kuantitas mengalami penurunan dari tahun lalu.

“Kualitas atlet yang ikut meningkat dari berbagai game yang dimainkan cukup menarik meskipun secara kuantitas menurun dari tahun sebelumnya,” ujar Aditnya.

Dari seluruh kategori kelompok umur yang diperlombakan, mulai dari 7 U-12 hingga U-16, mayoritas atlet luar Sulsel yang keluar sebagai juara.

Namun di posisi finalis atlet kebanggaan Sulsel hampir keseluruhan disapu bersih.
Secara keseluruhan Aditya menuturkan jika penyelenggaraan tahun ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya.(tribuntimer)

Mutasi Atlet Bermanfaatkah ?


REMAJA-TENIS.COM, Pekan Olahraga Nasional XIX th 2016 sudah dekat yaitu tepatnya tanggal 17 September 2016 dilakukan Pembukaan di Bandung. Entry by Name sudah lewat yaitu 19 Juli 2016. Daftar nama peserta yang ikuti Pekan Olahraga Nasional XIX cabang olahraga tenis telah dterbitkan oleh KONI Pusat. Sehingga setiap Provinsi yang masuk babak utama yaitu 12 Provinsi baik putra dan Putri terdiri dari maksimum 4 pemain karena ada kuota dari KONI untuk cabor tenis maksimum 96 atlet.

Sebelumnya Nopember 2015 telah dilakukan babak kualifikasi PON di Tarakan Kalimantan Utara. Perpindahan atletpun sudah mulai terlihat disaat Kualifikasi PON. Ada daerah yang berhasil lolos ke PON 2016 dengan menggunakan atlet “baru” pindah, tetapi ada juga daerah walaupun sudah menggunakan atlet pindahan tetapi gagal lolos ke PON, ya itu nasib jeleknya saja.

Perpindahan petenis antar Provinsi jelas kurang bermanfaat selama dikaitkan dengan multi event seperti Pekan Olahraga Nasional maupun Pekan Olahraga Daerah atau {provinsi).

Perpindahan atlet jelas bermanfaat bagi si atlet sendiri bukan bagi daerah domisili barunya, karena perpindahan ini bertujuan mencari dana pembinaan bagi si atlet tersebut jika murni tujuan awalnya. Tetapi yang jadi masalah saat ini keterlibatan mutasi atlet ini justru banyak dimanfatkan oleh “calo calo” yang termotivasi mendapatkan keuntungan semata.

Namun , penting dipahami, mobilitas atlet bukan dikendalikan oleh regulator atau induk organisasi, yang sebenarnya sudah memiliki Kartu Tanda Anggota Pelti. Tetapi sejak 2013 tidak diberlakukan secara informal. Ketentuan Turnamen Diakui Pelti jelas mencantumkan ada ketentuan peserta adalah Kartu Tanda Anggota Pelti (yang saat itu sudah mencapai sekitar 5.000 anggota). PON sebelumnya sudah dimasukan ketentuan peserta PON adalah KTP dan KTA Pelti, tetapi kali ini hanya dicantumkan KTP saja.

Dampaknya sekarang makin semrawutnya atlet tenis pindah tidak melalui mekanisme organisasi olahraga. Indikasi muncul keterlibatan Pelti Pusat karena sudah membentuk tim keabsahan atlet yang tidak diketahui oleh Pengda Pengda Pelti. Muncul indikasi lebih jahat lagi ada permainan “oknum” dari tim keabsahan tersebut seperti yang disampaikan berbagai info dari masyarakat tenis.

Yang jadi pertanyan saat ini adalah, kenapa sampai terjadi perpindahan atlet begitu makin semarak dibandingkan sebelumnya. Awalnya setiap tuan rumah selalu melakukan hal hal seperti ini. Mendahulukan prestise daripada prestasi. Bedanya kali ini justru provinsi Jawa Timur secara demonstrasi membeli atlet dari luar daerahnya sedangkan stok atletnya sendiri cukup banyak. Pengda Pelti Jatim telah memiliki Pelatda sewaktu persiapan PON 2012, tetapi kali ini seperti sudah tidak berfungsi, padahal dana yang dikeluarkan cukup besar pembinaan melalui Pelatda tersebut.

Kali ini untuk PON Jabar 2016, jumlah provinsi yang membeli atlet dari luar provinsinya dua kali lipat dibandingkan PON 2012.
Kenapa bisa demikian? Jawabannya, akibat tidak ada program pembinaan yang jelas didaerah daerah tersebut kecuali Jawa Timur. Baru kali ini terjadi atlet DKI Jakarta dibajak oleh Jawa Timur.

Kondisi seperti ini jika dibiarkan maka olahraga khususnya tenis di Indonesia sulit berkembang . Harus diakui jika pembinaan atlet tenis butuh modal besar yang harus dilakukan oleh para orangtua atletnya. Bagi yang mempunyai modal besar bukanlah suatu masalah, tetapi bagi yang kurang mampu maka mutasi atlet ini bisa dimanfaatkan yang seharusnya untuk pembinaan atletnya. Tapia apa lacur, justru dana yang didapat digunakan untuk kepentingan pribadi baik orangtua maupun pelatih ataupun “ calo calo” nya.
Maka berbagai cara dilakukan sehingga ada kecendrungan terjadi “ manipulasi” untuk mensukseskan tujuan prestise tersebut.

Dana yang didapat dari hasil mutasi ini sebenarnya cukup jika digunakan untuk beaya try out atlet ikuti turnamen internasional diluar negeri. Karena beaya pembinaan yang mahal adalah beaya try outnya. Tetapi ternyata kenyataan terbalik. Ikut try out hanya bisa dihitung jari disalah satu tangan saja, hanya formalitas saja.

Coba kita flashback ke PON sebelumnya yaitu PON XVI 2004 Sumsel, PON XVII 2008 Kaltim , PON XVIII 2012 Riau. Ketiga tuan rumah menggunakan atlet mutasi. Apakah saat ini ketiga provinsi tersebut mempunyai atlet yang mencuat kedalam pertenisan nasional apalagi internasional? Apalagi atlet binaan sendiri sepertinya kurang bergairah . Jadi apa gunanya PON kalau cuma menghasilkan sarana sarana besar alias stadion stadion yang lebih banyak menjadi museum belaka. Betapa pedihnya Tenis Indonesia. Jadi jangan kaget kalua ada yang bertanya siapa petenis lapis kedua Indonesia setelah Christopher Rungkat cs? Dan sulit untuk dijawab. (penulis August Ferry Raturandang,pengamat tenis)

Samantha Gagal ke Semifinal di Singapore


REMAJA-TENIS.COM, SINGAPORE. Petenis potensial asal Bandung Samantha C Nanere terhenti langkahnya dikuarterfinal oleh andalan tuan rumah Charmaine Shi Yi Sean dalam 2 set 4-6 5-7. Sebelumnya Samantha berhasil lolos kebabak ketiga setelah kalahkan petenis India J Pateh 6-3 6-2.
Petenis tuan rumah Charmaine Shi Yi Sean berhasil lolos ke semfinal dan tidak ada satupun petenis muda Indonesia yang berlaga disemifinal turnamen internasional yunior ITF Gr 5 dikota Singapore. Demikian pula ditunggal putra, hanya tersisa Odeda Muhamad Araza yang berhasil lolos kebabak ketiga tetapi ternyata Odeda terhenti dan gagal lolos kekuarterfinal oleh petenis asal Nepal Samrahjhak Bajracharya 3-6 2-6.

10 petenis muda Indonesia telah lakukan try out ikuti ajang internasional di Singapore , tetapi hanya 2 petenis yang lolos kebabak ketiga dan hanya 1 yang sampai ke kuarterfinal .

Menanggapi prestasi petenis yunior ini, August Ferry Raturandang selaku pengamat tenis kemukakan perlu ditingkatkannya kualitas pelatih pelatih di Indonesia. ” Kualitas pelatih Indonesia perlu mendapatkan perhatian. Dihimbau agar Pelti lakukan penataran penataran pelatih lebih banyak sehingga bisa memajukan petenis yunior kita. ” ujar August Ferry Raturandang kepada Remaja-Tenis.com. Hal ini diakui pula oleh mantan pelatih nasional Deddy Prasetyo.

Ada indikasi pelatih Indonesia orientasinya sudah berubah, seharusnya menciptakan petenis handal lebih diutamakan. Ironisnya saat ini tercatat kurang lebih 12 pelatih dengan bersertifikat ITF Level-2 tetapi ada beberapa justru tidak memiliki atlet asuhan. Hal yang sama tercatat sekitar ratusan pelatih bersertifikat ITF Level-1 yang tersbar diseluruh Indonesia. (Foto Samantha Nanere)


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media