TERBIT 1 FEBRUARI 2012...PON REMAJA TGL 9-15 DES 2014 DI SURABAYA...TURNAMEN NASIONAL REMAJATENIS SUMSEL-3 TGL 21-23 NOPEMBER 2014 DI TANJUNG ENIM SUMSEL...JUARA TURNAMEN NASIONAL REMAJATENIS JAKARTA-6 ADALAH KU 10 PA SULISTYO WIBOWO (DKI) , KU 10 PI NATHANIA NASYWA ISKANDAR (DKI), KU 12 PA WOLTER WONDO WIJONO (DKI) KU 12 PI NATALIA MICHTA (POLANDIA), KU 14 PA SEBASTIAN HANZEL (KUDUS) KU 14 PI ALYA AMALIA (MUBA) KU 16 PA HARRISON SOEGIARTO (DKI),, KU 18 PI ROSONEA TITAH S (MUBA).. ................. UNTUK PETENIS INDONESIA, MENTAL YANG PALING PENTING, SERTA KELINCAHAN, MOBILITAS DAN DAYA TAHAN UNTUK MENEMBUS TINGKAT DUNIA (AFR) .............. . ..... . CARA DAFTAR REMAJATENIS TERMUDAH DGN SMS ..0812 8402 4970............. TURNAMEN NASIONAL REMAJATENIS SUMSEL-3 TGL 21-23 NOPEMBER 2014 DI TG ENIM.... MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0812 8402 4970.............

Petenis Tuan Rumah Mulai Bertumbangan


REMAJA-TENIS.Com, TANJUNG ENIM. Ditempat terpencil dikota Tambang Batubara tepatnya diapangan tenis indoor Bukit Asam Tanjung Enim, kesibukan turnamen nasional RemajaTenis Sumsel-3 telah dimulai hari ini Jumat (21/11) yang diikuti oleh petenis yunior dari Payakumbuh (Sumatra Barat), Pelalawan (Riau), Kotabumi (Lampung), Sekayu Musi Banyuain, Baturaja , Lahat, Muara Enim, Tanjung Enim, Prabumuih dan Palembang.

Berkumpulnya atlet atlet yunior difasilitasi oleh PT Bukit Asam dengan menyediakan fasilitas akomodasi secara gratis kepada peserta sehingga memudahkan peserta dekat venue pertandingan.

Dihari pertama (Jumat 21/11), petenis tuan rumah mulai bertumbangan . Tapi tidak berlaku bagi Windy Cipta Purnamasar (Muara Enim) dikelompok 18 tahun yang berhasil mengalahkan petenis Sekayu Muba Rosonea Titah Safitri 7-6 (2), 6-4. Petenis Baturaja Intan Purnama Sari berhasil mengalahka Yuliani Richim asal Lahat 6-2 6-3.

Dikelompok 10 tahun putra, petenis tuan rumah Guntar Mathew S Nababan dikalahkan oleh petenis Pelalawan Riau M.Adis Nararya 0-8. Nasib yang sama dialami Serlita Christanta (Muara Enim) dikalahkan oleh Tiara Marshanda asal Lahat 0-8.

Dikelompok 12 tahun, petenis Lampung Danny Ikhwan berhasil menyisihkan petenis Payakumbuh M.Pitoli Putra 8-3. Kedua petenis bermain cukup menarik dengan adu adu reli panjang menarik perhatian penonton dilapangan Nomor 1 . Keberuntungan Danny berkat kecerdikannya mengatur pola permainan sehingga membuat Pitoli Putra membuat kesalahan sendiri.
Petenis Palembang Panji Susilo berhasil menyisihkan petenis tuan rumah Ahmad auia Akbar 8-5.

Dikelopok putri 12 tahun, petenis tuan rumah Khoiria Zahara Anisya disihkan oleh petenis Palembang Quena Alvida 3-8. Begitu pul nasib yang sama dialamipetenis tuan rumah lainnya Engriani Dwi Puspitasari disihkan oleh petenis Baturaja Isyabella Nurulia Viana 0-8.(Foto Yukita Sari/AFR)

Sudah waktunya PORPROV Perlu di Tertibkan


REMAJA-TENIS.Com. Perhelatan akbar olahraga sering kali sudah keluar dari tujuan awal. Sehingga sudah waktunya perlu dilakukan penertiban oleh Komite Olahraga Nasional Indonesia. Memang ajang yang diemban oleh KONI baik tingkat Pusat maupun Daerah sudah harus mendapatkan perhatian dari pada memikirkan penyatuan antara KONI dan KOI (Komite Olimpiade Indonesia).
Masalah apa yang selalu muncul disetiap ajang multi event nasional di Tanah Air ini ?. Tidak lain adalah ketidak sportivitasan bagi pelaku pelaku olahraga sendiri. Dari awal selalu dikatakan Pekan Olahraga Daerah atau Pekan Olahraga Provinsi sebagai persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional. Jadi keberadaan PORPROV ini sebagai ajang seleksi bagi atletnya menghadap Pekan Olahraga Nasional (PON).

Tetapi apa lacur jadinya, karena dengan dalih seperti diatas yang terjadi dilapangan sudah berbeda sekali. Sudah merupakan rahasia umum oleh pelaku olahraga selalu memanfaatkan kepentingan prestise daripada kepentingan prestasi. Hanya untuk mengangkat nama Kabupaten atau Kotamadya diakukan segaa macam cara dengan mengabaikan sportivitas yang cukup berlaku untuk atletnya saja. Masalah mutasi atlet sebagai penyebab keribetan suatu multi event ini.

Tahun 2014, saya pantau ada di PORPROV Riau, Kaltim, Jabar terjadilah perpindahan atlet sementara saja statusnya karena setelah Porprov selesai maka kembali ke status awal berdomisili sesuai KTP yang asli. Sehingga memudahkan terjadi kekisruhan, karena melupakan tata cara perpindahan atau mutasi. Ada Porprov berlangsung mulus karena tidak ada keributan atau protes2 sehingga banyak yang terangkat ke media massa membuka mata masyarakat luar. Penggunaan atlet luar Provinsi tersebut sebagai penyebab keributan atau disebut muncul protes protes yang berakibatkan pemboikotan multi event tersebut. Sehingga kesan saya tujuan utama menjadi mengejar Prestise saja bukan Prestasi yang dipakai alasan utama.

Dalam pantauan saya di Porprov Kaltim, cabang olahraga tenis berjalan mulus (karena tidak ada laporan yang disampaikan masyarakat kepada saya pribadi). Tetapi di cabor lainnya sesuai dengan pemberitaan media massa ada protes karena salah satu kontingen menggunakan atlet luar Kaltim alias dari Jawa yang disebutkan sudah keluar dari aturan mutasi. Coba kita simak dari masing masing Porprov tersebut mayoritas petenis yang bertanding itu berdomisili di Jawa atau Jakarta karena memang kedua orangtuanya berdomisii di Jawa.

Tetapi yang saya terima laporan terjadi di Porprov Jawa Barat khususnya cabor tenis ada atlet yang membela kota Bekasi ternyata seminggu yang lalu terdaftar ikut Porprov Kaltim. Sedangkan orangtuanya sudah pindah kerja ke Kaltim. Dan berbagai dalih dikeluarkan oleh manajer ataupun pelatih seolah-olah ikut kecolongan dengan kasus tersebut padahal mereka ini sebagai pelakunya sendiri. Nah, masing masing mencuci tangan seolah olah bukan mereka penyebabnya. Disayangkan sekali karena petenis yunior dimanfaatkan dan ikut terlibat dalam masalah kericuhan tersebut. Dimana peranan orangtua mereka , apakah mereka tidak tahu, menurut pendapat saya orangtua juga ikut terlibat masalah ini. Kalau dibiarkan terus maka prestasi tenis akan mandek sampai disini saja.

Atlet saat ini lebih bangga ikut PORPROV atau PON dibandingkan ikut Grandslam Wimbledon. Kenapa begitu, itu masalahnya. Dan pernah terjadi atlet kita cepat cepat pulang ke Jakarta hanya untuk ikuti PON sehingga pertandingan yang sedang diikuti saat itu Wimbledon ditinggalkan dengan cara harus pulang yaitu cepat cepat kalah. Ini fakta yang saya temui beberapa tahun silam.

Nah, bagaimana solusinya? Menurut saya sebaiknya KONI Pusat ikut campur tangan dengan membuat aturan agar waktu pelaksanaan Porprov itu disamakan sehingga menutup kemungkinan kasus kasus perpindahan atlet sesaat. Ini harus dibicarakan dalam Rapat Kerja Nasional KONI dengan melibatkan cabor dan KONI Provinsi. Ini tidak mudah karena menurut saya so pasti akan ada yang pro dan kontra.

Apapun alasan yang dicari cari bagi yang kontra sebenarnya karena menutup peluang jual beli atlet yang nilainya ratusan juta rupiah. Kalau tidak sebaiknya khusus cabor tenis tidak diikut sertakan karena Turnamen nasional tenis cukup banyak di Tanah Air. Ya secara gamblang saya katakan bubarkan saja Porprov itu. (penulis August Ferry Raturandang)

Sempat Memanas, Hubungan Federer dan Wawrinka Kini Baik-baik Saja


RENAJA-TENIS.Com, Lille - Roger Federer dan Stanislas Wawrinka berusaha mendinginkan suasana setelah mereka berdua dikabarkan bertengkar di London. Dua petenis Swiss itu menegaskan hubungan mereka kini sudah baik-baik saja.

Kabar perselisihan Federer dan Wawrinka muncul setelah laga semifinal ATP World Tour Finals, Sabtu (15/11/2014) lalu. Laga tersebut dimenangi Federer dengan skor 4-6, 7-5, 7-6(6).

Rekaman televisi memperlihatkan momen ketika Wawrinka meminta rombongan orang dekat Federer untuk tidak berisik ketika pemain akan melakukan servis. Dia juga sempat mengajukan komplain kepada wasit Cedric Mourier lantaran istri Federer, Mirka, telah mengucapkan kata-kata celaan kepadanya.

Insiden-insiden tersebut kabarnya merembet hingga ke luar lapangan. Setelah pertandingan, Federer dan Wawrinka disebut-sebut bersitegang di ruang loker stadion.

Federer dan Wawrinka membenarkan mereka sempat berselisih. Tapi, mereka telah menyelesaikan masalah dan sekarang hubungan mereka kembali normal.

Federer dan Wawrinka memang harus segera berbaikan. Pasalnya, mereka adalah rekan setim saat Swiss berhadapan dengan Prancis di final Piala Davis, 21-23 November.

“Kami berbicara setelah pertandingan. Semuanya benar-benar santai soal situasinya. Kami sudah cukup dewasa. Kami punya Severin (Luthi) sebagai pelatih, kapten Piala Davis, dan juga teman,” ujar Federer di Reuters.

“Saya cuma ingin melihat apakah ada sakit hati karena itu mungkin merupakan salah satu momen paling ramai dalam pertandingan, dalam skor sekitar 5-4 atau 5-5. Jelas suasananya riuh,” tuturnya.

“Yeah, seperti yang saya katakan, tidak ada sakit hati apapun. Kami adalah teman, bukan musuh. Tapi, itu mungkin memang momen yang panas,” kata petenis peringkat dua dunia ini.

Sementara itu, Wawrinka menyebut media telah membesar-besarkan masalah antara dirinya dan Federer.

“Yang pertama, kami sama-sama tak punya masalah. Kami langsung membicarakan soal itu setelah pertandingan. Bukan cuma soal itu, tapi soal banyak hal. Kami tahu bagaimana mengatasinya ketika kami punya hal kecil seperti itu,” kata dia.

“Tak banyak yang bisa dikatakan karena itu menjadi masalah besar karena pers, karena kalian. Tapi, buat kami bukan apa-apa,” ujar Wawrinka. (detiksport)

Menpora Inginkan PON Yang Bersih dan Jujur


REMAJA-TENIS.Com, KUDUS. – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi berharap penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) kembali kepada semangat olahraga yang mengejar prestasi dan jujur.

Hal ini diungkap oleh Menpora menanggapi maraknya kericuhan soal perpindahan (mutasi) atlet menjelang berlangsungnya PON di Jawa Barat pada 2016. Belum lagi ada kasus penggunaan atlet luar daerah dalam Porprov yang sering menimbulkan kecemburuan dari atlet-atlet lokal.

“Apa hal-hal seperti itu masih terjadi?” tanya Menpora usai menutup penyelenggaraan turnamen Bulutangkis Antarmedia 2014 di PB Djarum Kudus, Kamis (21/11/2014) . “Saya sayangkan karena seharusnya sebagai olahragawan kita lebih fair.”

Dalam Porprov Kaltim pekan lalu, timbul protes soal penggunaan atlet-atlet luar provinsi, termasuk atlet-atletd ari Pulau Jawa oleh beberapa daerah peserta. Penggunaan atlet-atlet luar daerah ini dianggap akan menghambat potensi atlet lokal dan berkaitan dengan bonus yang diterima penerima medali.

Menpora mengakui soal bonus buat atlet memang kerap menimbulkan kontroversi. Meski ia juga tidak mengesampingkan kebutuhan harian atlet yang cukup besar. “Memang baik kalau atlet semakin dihargai karena kemampuan mereka. Namun bagaimana pun akan ada aturan soal status atlet baik soal asal atau pun soal cabang olah raganya. saya kira baik KONI pusat atau pun daerah harus lebih tegas soal ini.”

“Bagaimana pun kita harus melindungi atlet lokal,” lanjut Menpora. “Sementara untuk kesejahteraan atlet, kami sedang memikirkan koordinasi dengan kementerian PAN untuk pola rekrutmen CPNS.”

Namun Menpora berharap ini bukan satu-satunya alternatif buat para atlet. “Kami justru mengusahakan mereka untuk mendapat kemudahan dalam hal pendidikan atau pelatihan kewirausahaan. Yang terakhir ini menurut saya justru akan lebih mendukung peran utamanya sebagai atlet.”(kompas.com)

Cabor Tenis di Porprov Jabar Ribut


REMAJA-TENIS.COM, BANDUNG. Kemeriahan pesta olahraga Jawa Barat atau dikenal dengan PORPROV (Pekan Olahraga Provinsi) yang berlangsung dikota Bandung khususnya cabang olahraga tenis diciderai dengan munculnya kasus atlet yang digunakan oleh kontingen Kota Bekasi peserta Porprov tersebut.

Referee turnamen Drs Eko Supriyatna sulit dihubungi untuk konfirmasi masalah kasus salah satu atlet putri yang ternyata ikut PORPROV Kaltim dan Jabar.
Sampai kemarin belum bisa diputuskan oleh Panpel masalah atlet tersebut sehingga muncul protes keras dilakukan oleh kontingen lainnya. Masalah ini diserahkan kepad Dewan Hakim yang dibentuk Panpel.

Penyebabnya adalah atlet putri Nadhila Safira dari kontingen kota Bekasi terbukti seminggu lalu masih memperkuat salah satu kontingen diajang Pekan Olahraga Provinsi Kalimantan Timur. Setelah itu muncul diajang Porprov Jawa Barat.

Menanggapi hal seperti ini sering terjadi diajang Porprov, oleh pengamat tenis August Ferry Raturandang (AFR) dari Tanjung Enim menyampaikan sebaiknya Porprov seperti ini dibubarkan saja. “Tenis tidak membutuhkan ajang Porprov, karena sudah cukup banyak turnamen nasional di Tanah Air. Saya setuju dengan pendapat salah satu Gubernur yang usul agar Porprov dibubarkan saja karena ini objekan KONIDA saja.” ujarnya. Dikatakan pula beberapa tahun silam kasus seperti ini sudah sering terjadi. Bahkan ada atlet dalam setahun bisa ikuti 3 Porprov berbeda provinsi. Bahkan ada kasus sepeti ini dimana terjadi disaat final sehingga oleh Panpel Cabor Tenis dibatalkan.

Seharusnya KONI Pusat membuat aturan yang baku tentang pelaksanaan Porprov ini dilaksanakan serempak dalam waktu yang sama diseluruh Indonesia. “Kalau mau tertib sebaiknya disatukan saja waktu pelaksanaan. Ini KONI Pusat harus tertibkan. ” ujarnya.


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media