TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... JUARA .KEJURNAS AFR REMAJATENIS SULSEL-IX DI MAKASSAR .... FEBBYARO RIBY (DKI JAKARTA, KU 10 PI), M.RAISYA AZZAKI ( MAKASSAR 10 PA), ANNISA AZZAHRA (BALIKPAPAN 12 PI), MUH. ALIEF R (MAKASSAR 12 PA), NOVIA RAHMADHANI (BALIKPAPAN 16 PI), OSCARLINO HALIM ( MAKASSAR 16 PA), MUH RINALDY NB (PALOPO 18 PA).... ... ...KEJURNAS AFR REMAJATENIS JAKARTA-59 TGL 13-15 JANUARI 2017 DI GOR RAWAMANGUN JAKARTA ................. UNTUK PETENIS INDONESIA, MENTAL YANG PALING PENTING, SERTA KELINCAHAN, MOBILITAS DAN DAYA TAHAN UNTUK MENEMBUS TINGKAT DUNIA (AFR) ............ MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........

Justin Barki/Christopher Rungkat Juara di Nomor Ganda


REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Pasangan tuan rumah, Justin Barki/Christopher Rungkat berhasil menjuarai nomor ganda turnamen pekan ketiga ITF Men’s Future Combiphar Tennis Open 2017.

Di babak final, unggulan ketiga itu menghentikan perlawanan duet Jepang, Sho Katayama/Sho Shimabukuro, Sabtu (25/2/2017).
Justin/Christo menang dua set langsung dengan skor akhir 6-3 6-2.

Kemenangan tersebut memberikan gelar juara ganda kedua bagi pasangan kombinasi junior senior ini di ajang ITF Men’s Future setelah gelar pertama mereka di arena yang sama akhir tahun lalu.

Duet yang terpaut jarak usia 11 tahun itu, mampu tampil bersama dengan apik dalam lima turnamen internasional.

“Kunci kemenangan di partai final ini adalah servis pertama yang baik, terutama dari Justin. Kami sendiri ekstra waspada karena pasangan Jepang ini bermain cukup solid di babak sebelumnya,” kata Christopher, usai laga yang berlangsung selama 46 menit.

Rasa bangga dan gembira juga dilontarkan oleh Justin. Sebagai petenis junior atau berusia lebih muda dari pasangannya, Justun merasa dirinya mampu bermain dengan baik dan kompak di sepanjang turnamen.

Ia mengaku banyak mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang baik dalam meningkatkan performa permainannya.

“Saya belajar banyak dari pengalaman Christopher di dunia tenis. Memang tidak mudah melakoni karir profesional. Perjalanan saya masih jauh, belum tahu yang akan terjadi pada masa mendatang, namun saya merasa cukup gembira dengan prestasi hingga saat ini,” kata Justin.(tribunnews.com)

Setelah Musyawarah Daerah, So What


REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Tahun 2017 merupakan tahun terakhir bagi induk organisasi Pelti yaitu Pengurus Pusat hasil Munas Pelti 2012. Tetapi disamping itu pula sudah beberapa kepengurusan Pengurus Daerah yang juga sudah berakhir masa berlakunya bahkan ada yang sudah lewat batas waktunya tetapi belum ada tanda tanda diselenggarakan Musda. Entah apa alasannya sehingga pertenisan didaerah tersebut lebih tersendat sendat. Bagaimana jadinya jika suatu Pengda yang sebagai tuan rumah multi event yang cukup bergengsi akan dilaksanakan dikota tersebut. Misalnya kota Palembang yang akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 sedangkan Pengda Pelti Sumsel sudah habis masa berlakunya. Ini baru satu contoh yang terjadi, belum lagi pengda lainnya yang tidak termonitor. Saat ini sedang berlangsung Musda Pelti DKI Jakarta.

Tetapi ada beberapa Pengda Pelti yang sudah terbentuk kepengurusannya setelah dilaksanakan Musyawarah Daerah Pelti. Sebagai contoh Pengda Bangka Belitung, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Utara.

Apakah tolak ukur keberhasilan suatu Pengda selama 5 (lima) tahun menjalankan tugasnya? Memang banyak patokan yang bisa digunakan tetapi tentunya kita tidak bisa mengatakan hanya Pengda tetapi Pengurus Pusatpun masih banyak ketertinggalannya sehingga membuat pertenisan nasional itu lebih terpuruk.

Bagi induk organisasi selalu tolak ukurnya bagi masyarakat tenis adalah keberhasilan tim yang digunakan untuk dalam kejuaraan beregu. Bisa saja untuk single event beregu tetapi bisa juga untuk multi event. Kalau skala internasional single event itu adalah kejuaraan beregu Fed Cup (putri), Davis Cup (putra), Junior Fed Cup, Junor Davis Cup ( 16 tahun) dan World Junior Tennis Competition (KU 14 tahun). Untuk multi event ada SEA Games, Asian Games dan Olimpiade. Bagi Pengda kita kenal Pekan Olahraga Nasional, PON Remaja, Pekan Olahraga Pelajar (POPNAS) yang merupakan tanggung jawab Pengda Pelti. Begitu juga bagi Pengcab Pelti memiliki kejuraan beregu yaitu PORDA (PORPROV).
Sehingga melupakan keberhasilan program lainnya seperti grass root development programnya termasuk turnamen. Intinya adalah sering melupakan peningkatan pembinaan SDM yaitu petenis, pelatih maupun ofisial turnamen

Setelah dibentuk kepengurusan Pengda Pelti kemudian dilanjutkan dengan pelantikan oleh PP Pelti kepengurusan lima tahun mendatang. So what ?

Tentunya bisa dilihat dari pertangung jawaban kepengurusan sebelumnya. Apa yang berhasil dan apa yang gagal. Ini bisa digunakan sebagai evaluasi kepengurusan berikutnya. Oleh PP Pelti sudah ada Pokok Pokok Program Kerja 5 tahun yang untuk 2012-2017 agak terlambat dibagikan ke Pengda Pelti. Bisa dibayangkan kepengurusan setengah jalan baru disebar luaskan ke Pengda. Dan bahkan baru diterima secara resmi disaat Rakernas Pelti 2016 lalu. Keterlambatan ini juga bisa memicu keterlambatan pelaksanaan pembinaan SDM yang dimaksud diatas.

Bagi kepengurusan Pengda Pelti yang baru terbentuk sudah harus dimulai sekarang menjalankan programnya karena banyak tantangan dimasa depan bagi kepengurusannya. Bisa saja digunakan patokan sasarannya adalah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua sebagai program jangka pendek. Sedangkan POPNAS bisa digunakan sebagai program antara sebelum ke PON 20120. POPNAS 2017 dibulan Agustus 2017 di Semarang yang setiap 2 tahun sekali dilaksanakan.

Diawali dulu Pokok Pokok Program Kerja Pelti 2012-2017 sebagai acuan kerja Pengda Pelti yang baru terbentuk. Janganlah mengunakan program instant untuk PON 2020 dengan membeli atlet dari pembinaan daerah lain. Ini contoh yang tidak baik bagi pertenisan daerah maupun nasional. Mind set pelaku tenis sudah harus segera dirubah jika ingin majukan tenis Indonesia ( penulis August Ferry Raturandang, pengamat tenis)

Performance Players Camp bersama Frank van Faayenhoven di Magelang


REMAJA-TENIS.COM, MAGELANG. Detec kerjasama dengan Pengda Pelti DKI Jakarta selenggarakan Performance players camp dengan pelatih kondang asal Belanda Frank van Faayenhoven tangal 27 Februari – 17 Merat 2017 di Magelang. Setelah itu dilanjutkan ke Surabaya training untuk Development players dari tanggal 18-24 Maret 2017.

Kebutuhan akan kepelatihan baik untuk petenis maupun pelatih sangat dirasakan sekali. Demikian menurut pelatih Deddy Prasetyo selaku koordinator kegiatan tersebut. Training camp ini berjudul ” How to create individual training in group leson.” , penting bagi Hogh Performance coach. Tetapi disayangkan tidak ada pelatih nasional yang mau ikut. Demikian menurut Dedy Prasetyo mantan pelatih nasional.
Dikatakan pula tahun ini merupakan tahun ke 13 berturut turut diselengarakan Workshop dan Camp oleh Detec bersama Pengda Pelti DKI Jakarta.

” Sayang kegiatan ini tidak dimanfaatkan oleh PP Pelti. Karena Pelatih Frank ini bisa diminta melatih tim nasional kita.” ujar Deddy Prasetyo kepada remaja-tenis.com. Bagi pelatih yang tidak mengikutinya dikuatirkan akan ketinggalan, karena sudah mulai dari Basic fundamental of coaching sampai ke High Performance coaching.

Menurut pengamat tenis August Ferry Raturandang, kegiatan Detec yang setiap tahun selalu aktip lakukan training camp di Indonesia bersama pelatih asal Belanda yang datang bersama timnya, harus diapresiasi oleh Pelti walaupun pelaksanaannya dilakukan oleh Detec bersama Pengda Pelti DKI Jakarta. Disayangkan sekali justru untuk tim nasional mengunakan pelatih asing yang kurang terkenal dan belum pernah menghasilkan petenis dunia.

Minimnya kepelatihan sangat terasa bagi pertenisan didaerah daerah. Hanya sayanng sekali kegiatan ini hanya bisa dilaksanakan di Jawa. Sedangkan pelatih pelatih diluar Jawa sangat membutuhkan juga.

Petenis Yunior Indonesia Terhenti langkahnya di Cambodia


REMAJA-TENIS.COM,PHNOM PENH. Petenis Indonesia berguguran diajang ITF Junior Cambodia Grade 5 yang berlangsung di Phnom Penh Cambodia. 5 petenis yunior putri yang terdiri dari Shevita Aulana, Joleta Budiman, Putri Sanjungan Insani, Janice Chen, Samantha Nanere dan putra Odeda Muhammad Arazza. Turnamen yang berlangsung sejak 20-26 Februari 2017 merupakan ITF World Ranking Junior Circuit 2017.

Hanya Shevita Aulana dan Joleta Budiman yang bisa melewati ababk pertama sampai kalah dibabak kuarterfinal. Yang lainya perjalanan terhenti dibabak pertama. Begitu pula di ganda, Joleta Budiman berpasangan dengan petenis Korea Sumim Kim hanya mencapai semifinal saja.

Shevita Aulana dibabak pertama berhasil menyisihkan petenis Chinese Taipei Ting Yi Chu 64 60 kemduian dibabak kedua berhasil menyisihkan petenis Russia Evelina Kontarevs 64 63 dan akhirnya langkahnya dihentikan oleh petenis Thailand Punnin Kovapitukted yang masuk melalui fasilitas wild card 36 26.

Sedangkan rekannya Joleta Budiman dibabak pertama sukses mengalahkan petenis Thailand P.Jattavapornvanit 63 62 kemudian berhasil menyisihkan petenis Jepang Shioni Ito dalam 3 set 36 64 64. Akhirnya terhenti dibabak kuarterfinal ditahan oleh petenis Jepang Y Ando 26 16.

Berpasangan dengan Janice Chen, Samantha Nanere terhenti dibabak pertama oleh pasangan Jepang Shiori Ito/Saki Oyama 67(4) 46, sedangkan pasangan Putri Sanjungan Insani/Tifay Linh Nguyen (USA) dibabak pertama berhasil mengalahkan pasangan oleh pasangan gado gado Cambodia dan Jepang Sreynoh Ho/Emiri Takanishi 62 60. Tetapi selanjutnya terhenti dari pasangan Shiori Ito/Saki Oyama 26 26. Pasangan Jepang ini yang lolos kefinal setelah menumbangkan ungulan kedua Joleta Budiman/Sumim Kim 67(4) 26.

Mengomentari kekalahan petenis yunior Indonesia, pengamat tenis August Ferry Raturandang mengatakan segera dievaluasi program pembinaan petenis yunior Indonesia. ” Ini cambuk bagi pelatih tenis kita. Ada yang salah. Ini grade 5 belum bisa lolos ke final apalagi juara. Try out ke Luar Negeri sangat diperlukan untuk melatih mental petenis muda. ” ujar Ferry (Foto Joleta Budiman)

Combiphar Tennis Open 2017: Justin Barki/Christopher Rungkat ke Final


REMAJA-TENIS.COM,JAKARTA – Pasangan andalan Indonesia, Justin Barki/Christopher Rungkat berhasil melangkah ke babak final turnamen pekan ketiga Combiphar Tennis Open 2017.

Di semi final kejuaraan berhadiah total 45.000 dollar AS atau sekitar Rp 600 juta, Jumat (25/2), unggulan ketiga itu mengalahkan ganda Jepang, Masaya Kobayashi/Yutaro Masuzaki. Duet kombinasi junior senior itu menang telak dua set langsung dengan skor akhir 6-1 6-2.

“Hari ini motivasi kami sangat tinggi untuk bisa memenangi partai semi final. Kami juga ekstra waspada terhadap lawan karena di perempat final mereka bisa menyingkirkan seeded kedua. Kami gembira dengan hasil ini,” tutur Justin (16 tahun) seusai laga berdurasi 48 menit.

Dalam laga empat besar yang berlangsung di lapangan tenis Hotel Sultan Jakarta itu, juara turnamen serupa tahun lalu itu tampil sangat dominan. Meski demikian, Justin merasa tetap perlu melakukan evaluasi menghadapi pertarungan babak pamungkas.

“Secara tim, kami perlu berdiskusi untuk memperbaiki pergerakan di lapangan. Sedangkan saya pun harus lebih baik lagi dalam melancarkan serve dan pengembalian agar tidak mudah dimatikan lawan,” paparnya.

Di final, Sabtu (25/2) Justin/Christo akan kembali meladeni ganda dari Negeri Matahari Terbit, Sho Katayama dan Sho Shimabukuro yang berhasil menghentikan laju wakil Merah Putih, Aditya Hari Sasongko/Sunu Wahyu Trijati 7-6(2) 3-6 [10-5].

“Kami sudah pernah lihat permainan pasangan Jepang itu, terutama Sho Shimabukuro yang mengalahkan Christo di babak kedua tunggal. Pasti akan jadi partai final yang menarik,” kata Justin yang berupaya memburu gelar juara ganda kedua di ajang level ITF Men’s Future ini.

Di sektor tunggal, dua petenis asal Eropa berhasil melangkah ke babak empat besar. Unggulan teratas, Alexandre Muller asal Perancis akan menghadapi wakil Australia yang menempati posisi seeded ketiga, Dayne Kelly.
Sedangkan unggulan kelima yang juga juara pekan lalu, Sebastian Fanselow (Jerman) bakal terlibat bentrok dengan wakil Asia, Sho Shimabukuro (Jepang) di semi final.(tribunnews.com/Foto Justn dan Christo/Foto Humas Pelti)

Hasil Jumat (24/2)
Semi Final Ganda
Sho Katayama/Sho Shimabukuro (Jepang) v Aditya Hari Sasongko/Sunu Wahyu Trijati 7-6(2) 3-6 [10-5]
3-Justin Barki/Christopher Rungkat v Masaya Kobayashi/ Yutaro Matsuzaki (Jepang) 6-1 6-2
Jadwal Sabtu (25/2)
Semi Final Tunggal
1-Alexandre Muller (Perancis) v 3-Dayne Kelly (Australia)
Sho Shimabukuro (Jepang) v 5-Sebastian Fanselow (Jerman)
Final Ganda
Sho Katayama/Sho Shimabukuro (Jepang) v 3-Justin Barki/Christopher Rungkat


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media