TERBIT 1 FEBRUARI 2012.... ...,,,,....REMAJATENIS JAKARTA-79 15-17 MARET 2019 DI LAPANGAN TENIS MARINIR CILANDAK JAKARTA........TGL 22-24 MARET 2019 REMAJATENIS BANDUNG DI LAPANGAN TENIS CARINGIN, BANDUNG....... MENUNGGU ULURAN TANGAN SEBAGAI SPONSOR KEGIATAN REMAJATENIS SILAHKAN HUBUNGI 0856 1900 943...........
Foto Pilihan
foto-rt-intan-payakumbuh foto-rt-jaffery-w foto-rt-kenneth_0

Yayasan Mitra Kencana Mendukung Prestasi Atlet Tenis

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA Hari ini ( 18/03) ada pertemuan antara Yayasan Mitra Kencana dengan 2 atlet tenis DKI Jakarta, Fitriani Sabatini ( 18 th) dan Fitriana Sanrina ( 18 th) yang difasilitasi oleh PP Pelti dengan menggunakan ruangan sekretariat PP Pelti Senayan.

Tanpak hadir dari Yayasan Mitra Kencana Djoko Kusumowidagdo, Subiyanto SP , Willy dan Johanes Susanto yang juga Ketua Bidang Hubungan Daerah PP Pelti. Tampak hadir pula pelatih Deddy Tedjamukti dan Wilson Hidayat dari PP Pelti .

Kedua atlet tersbut didampingi oleh Yetty Ibundanya yang selama ini mendampingi kedua putrinya kesetiap pertandingan diaam negeri maupun luar negeri.

Djoko Kusumowidagdo menyampaikan hasil rapat Yayasan Mitra Kencana dengan ketuanya Sarwono Kusumaatmadja , mantan Ketua Umum PB Pelti 1994-1998 , akan membantu atlet tenis Indonesia untuk meningkatkan prestasinya dengan cara ikut mendonasi programnya.

“Apakah goals adik adik ditenis? ” kata Djoko Kususmowidagdo dan dijawab untuk berprestasi dunia. Ketika dimintakan jadwal ikut turnamen keluar negeri ditahun 2019 ini, maka terbuka sudah ketidak siapan atlet Indonesia menyusun program tahunannya karena belum disiapkannya.. Hanya dikatakan segera akan ke Malaysia ikuti turnamen loka akibat minimnya turnamen di Indonesia.

Oleh Deddy Tedjamukti ikut berikan masukan agar kedua atlet ini menunjuk satu pelatih tetap karena selama ini dilatih oleh ayahnya sendiri. Ini juga merupakan kendala kemajuan kedua atlet jika ditangani oleh Ayahnya sendiri yang waktunya hanya diberikan pagi hari akibat sore hari melatih klub yang dimilikinya. ” Ana Ani harus menunjuk satu pelatih tetap sebelum ikut training camp diluar negeri.” ujar Deddy Tedjamukti. Dikatakan pula jika ikut Training camp di luar negeri sebaiknya Ana Ani diperbaiki dulu fisiknya di Jakarta.

Kepada RemajaTenis.Com , August Ferry Raturandang yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut , menyampaikan kalau kedua atlet tersebut sudah waktunya ” Go International”. Saat ini kesulitan bagi keduanya karena turnamen yang ada sekarang sulit mendapatkan WTA Points,

Dikatakan pula, kedua atlet tersebut yang akan menerima bantuan sponsor, sebaiknya dimasukkan dalam training camp diluar negeri daripada try out turnamen diluar negeri karena tanpa didampingi pelatih tetap. Alasannya adalah ikut melatih disiplin kepada atlet atlet kita yang sampai saat ini perlu ditingkatkannya. Disiplin itu bukan hanya untuk atlet tetapi juga untuk pelatih Indonesia.

Menurut AFR, beberapa tahun silam PP Pelti pernah lakukan program training camp bagi atlet yunior berpotensi. Contoh atlet Suwandi dan Andrian Raturandang , sewaktu peralihan dari yunior mau ke senior sempat merasakan pelatihan di campnya Tony Rche di Salamdar Bey Australia. ” Kenapa musti ke Eropa atau Thailand, bisa ke Australia saja.” ujar AFR.

212 Atlet Yunior Berlaga di Piala Yayuk Basuki 2019

REMAJA-TENIS.COM, AMBARAWA. Ratu tenis Indonesia Yayuk Basuki menyatakan, untuk memenangkan suatu pertandingan selain menjaga sportivitas, para petenis tetap giat berlatih. Pesan itu ia sampaikan di Pembukaan Kejuaraan Nasional Tenis Yunior Piala Yayuk Basuki di GOR Sasana Abirawa Raga, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (11/3).

Selanjutnya dikatakan, berkat berlatih keras akhirnya bisa tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) meski saat itu usianya belum genap 11 tahun. “Bukan karena daerahnya tidak punya pemain, waktu itu saya melaluinya juga dengan cara seleksi. Maka saya percaya, saya yakin kalian semua akan menjadi atlet yang menjuarai kompetisi yang bisa membawa nama baik Negara kita,” katanya.

Dikatakan pula oleh Yayuk Basuki , ia telah membela nama baik Indonesia selama 26 tahun. Sejalan dengan itu, menurutnya sekarang atlet itu lebih diperhatikan. Apalagi akhir-akhir ini banyak bermunculan atlet yang potensial dari beberapa provinsi di Indonesia.

“Itupun perlu kerja keras agar bagaimana pemerintah mengapresiasi atlet di kemudian hari. Jadi kalian jangan pernah khawatir lagi, bahwa nanti sekolah saya seperti apa. Mengingat saat ini banyak beasiswa bahkan ke sekolah luar negeri,” terang Yayuk Basuki yang juga sebagai anggota Komisi X DPR RI tersebut.

Menurut Direktur Turnamen Dra Terry Soegiyatti, Kejurnas yunior Piala Yayuk Basuki berlangsung pada 11-15 Maret 2019 yang diikuti 212 atlet dari 12 provinsi di Indonesia. Mereka akan bertanding di empat lapangan berbeda, yakni di GOR Sasana Abirawa Raga. Kemudian di Lapangan Kampoeng Kopi Banaran Bawen, serta Lapangan Yonzipur IV/Banyubiru, dan Lapangan Pusdik Binmas Banyubiru, Kabupaten Semarang. Adapun kelompok umur (KU) yang dipertandingkan, mulai 8 hingga 18 tahun.

Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Semarang, Jati Tri Mulyanto menandaskan, untuk mencapai prestasi puncak memang perlu dukungan semua pihak. Sejalan dangan itu atlet perlu disiplin dalam berlatih. “Kami berharap dan meyakini, atlet muda ini bisa berprestasi. Kalau bisa melebihi prestasi Yayuk Basuki,” tandasnya, didampingi sejumlah pengurus Pelti Kabupaten Semarang.

Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar RI, Ni Komang Ayu Astiti menambahkan, sektor olahraga merupakan bagian dari pariwisata. Guna mendukung promosi destinasi pariwisata yang ada, maka pihaknya membuat kegiatan yang tadinya sebatas Kejuaraan Nasional Tenis Yunior disempurnakan menjadi Kejuaraan Nasional Tenis Yunior Pesona Indonesia.

Ini tergolong strategi yang cukup baik, lanjut Ni Komang, untuk pengembangan pariwisata di Indonesia selain wisata budaya, wisata alam, dan wisata buatan lainnya. “Promosi pariwisata melalui sport tourism sangat mendukung pencapaian target kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal,” imbuh dia.

Tampak hadir pula Susan Soebakti wakil sekjen PP Pelti mewakili Ketua Umum PP Pelti yang berhalangan hadir. Dalam koemntarnya, Susan mengatakan agar kegiatan ini tetap berlangsung langgeng dari tahun ketahun dan diharapkan juga akan lahir calon petenis nasional.

Bumi Nyiur Melambai Kini Punya Bintang Baru di Tenis

JAKARTA-(TribunOlahraga.com). Sulaweswi Utara seakan tak pernah habis dengan petenis berbakat. Daerah yang dikenal dengan sebutan Bumi Nyiur Melambai itu telah memunculkan salah satu petenis yunior potensial yang merupakan aset bangsa ke depan.Dia adalah Gioban Leon Rodich Lumenta.

Awal pemunculannya pun saat mengenal tenis diusia 8 tahun di kota Manado di tangan pelatih Joe Rumagit. Dilahirkan dari pasangan Yola Rantung dan Denny Lumenta pada 15 April 2004 di kota Manado nama Giovan langsung menjadi buah bibir di kalangan tenis Indonesia khusus untuk level usia muda.Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum, berolahraga dan luar ruangan

Setelah hijrah ke Jakarta di usia 10 tahun dan ditangani pelatih Tjahjono selama 3 bulan dan berpindah ketangan pelatih lainnya, Sonny Ratag sampai saat ini, Gio telah memperlihatkan bakat tenisnya yang luar biasa.

Tidak sia-siap pula perjuangan Giovan selama berada di Jakarta berkat tekadnya ingin menjadi petenis professional kelak di kemudian hari.Sudah banyak atlet tenis asal Sulawesi Utara hijrah ke Jakarta tetapi akhirnya kandas dan pulang kampung kembali dengan sia sia.

Namun tidak demikian pada Giovan Leon Rodich Lumenta yang full committed dengan kehidupan tenis yang ditempuhnya. Di sinilah perlu mendapatkan perhatian penuh karena sebenarnya keberhasilan atlet itu ditentukan dari diri sendiri dan dukungan orangtua. Setiap atlet harus punya Goals dan dukunganpun harus mutlak juga dari orangtua. Tidak boleh cepat puas atas hasilnya sesaat sebagai pemicu dari kegagalan tersebut

Gio, demikian panggilan kepadanya saat ini masih terdaftar sebagai siswa SMP N 6 Manado sebagai modal dibidang pendidikan formalnya yang tidak mau ditinggalkannya.Gambar mungkin berisi: 1 orang, berolahraga

Banyak keuntungan didapatnya sejak berada di Jakarta karena saat itu di Jakartalah muncul kegiatan turnamen yunior setiap minggunya sehingga tiada hari tanpa turnamen. Momen ini betul-betul dimanfaatkan oleh Gio berkat tangan dingin pelatih Sonny Ratag ikut mendukung pembinaan seorang petenis muda Giovan Leon Rodich Lumenta untuk berprestasi dikemudian hari.

Ikut aktif mengasah permainannya mulai di kelompok 14 tahun kemudian 16 tahun dan 18 tahun dan semua itu membuahkan hasil.Tidak sia-sia perjuangan Gio yang saat ini dengan modal tinggi badan 169 cm cukup banyak membantu permainan tenis yang dimilikinya.

Salah satu modal adalah tidak tempramental sehingga bisa mengatasi dirinya disaat saat tertekan dalam permainan tenis karena diimbangi dengan tekad ingin menjadi petenis professional sebagaimana idolanya Alex De Minaur.

Oleh pelatih Sonny Ratag dikatakan kalau Gio ini sangat penurut dan mudah menerima apa yang diberikannya. ” Gio cukup cerdas menangkap apa yang dikehendaki pelatih.” ujar Sonny Ratag.

Tanggung Jawab Katua Umum Dana Pembinaan Cabang Olahraga

REMAJA-TENIS.COM, JAKARTA. Menpora Imam Nahrawi meminta cabang cabang olahraga memahami situasi di Kemenpora saat ini. Di tengah terbatasnya anggaran, Kemenpora sudah berusaha secepat mungkin untuk mencairkan anggaran tersbut. Hanya saja, sampai sekarang, prosesnya masih berlanjut,

Imam menegaskan, cabang diminta bisa mandiri karena anggaran dari pemerintah itu bersifat bantuan. Oleh karena itu cabang seharusnta mencari sumber anggaran sendiri diluar pemerintah. Cabang patutnya bisa lebih mandiri. ” Apa gunanya ketua umum cabang kalau mereka tidak bisa mencari sumber pendanaan untuk cabang yang dipimpinnya. Jangan sedikit dikit minta ke pemerintah. Paling tidak, manfaatkan momentum kepercayaan sponsor pada Asian Games 2018 untuk mencari sumber pendanan dari pihak sponsor.” kata Imam menegaskan.
Itulah cuplikan berita harian Kompas (15/02)

Keluhan datang dari cabang olahraga terhadap pendanaan yang terlambat itu merupakan lagu lama, demikian menurut August Ferry Raturandang selaku pemerhati olahraga kepada remaja-tenis.com, ” Saya sepakat dikatakan oleh Menpora. Buat apa ada Ketua Umum disetiap cabang olahraga. Kewajibannya untuk mencari dana pembinaan dicabang olahraga tersebut. Sudah tahu kewajiban ketua umum disaat mencalonkan diri saat Musyawarah Nasional atau Munas, begitu terpilih tidak ada aktivitasnya. Kelihatannya hanya numpang beken saja. ” ujar August Ferry Raturandang.

Masalah dana merupakan lagu lama didunia olahraga Indonesia. Ini sebagai pemicu keterlambatan prestasi olahraga Indonesia. Selanjutnya dikatakan sebaiknya pemerintah tidak perlu kuatir jika dalam multi event SEA Games 2019 nanti prestasi perolehan medali turun. ” Itu tanggung jawab dari cabang olahraga yang menargetkan kemampuan mendapatkan medali. Kecenderungan menjanjikan banyak medali agar dikirimkan ke multi event tersebut, tapi tanpa tanggung jawab terhadap kegagalannya nanti. Apa mau piknik dengan uang negara. .” ujarnya

Dikatakan pula mind set sudah harus dirubah, Jika tidak maka hasilnya setiap tahun sama saja. Yang jadi pertanyaan sekarang maukah pemerintah ikut merubah mind set petinggi petinggi olahraga ini.

Maksimalkan Potensi Tenis Daerah

REMAJA-TENIS.COM, PALEMBANG. Petenis daerah bisa menjadi kunci untuk mengatasi masalah prestasi nasional. Mengembangkan keanekaragaman petenis daerah dan menjadikan sebagai bagian pola pembinaan nasional bisa membantu mempercepat perbaikan prestasi nasional.

Sumatera Selatan yang saat ini telah memiliki sarana dan prasarana tenis terbesar di Indonesia sudah waktunya mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan tenis nasional. Harus diakui telah memiliki sarana dan prasarana terbesar telah diuji sebagai terbaik.

SEA Games 2011, ISG 2013 maupun Asian Games 2018 sebagai ajang pembuktian Jakabaring Sport City layak di gunakan sebagai Pusat Tenis Nasional.

So what? Kira2 dengan keberadaan Jakabaring Sport City yang memiliki 18 lapangan tenis terbuka pasca Asian Games 2018 dimanfaatkan oleh Pelti baik daerah maupun pusat untuk memegang julukan Pusat Tenis Nasional. Materi apa lagi yang dibutuhkan memenuhi kriteria sebagai Pusat Tenis Nasional.
Perlu dilengkapi dengan SDM atlet maupun pelatih. Kebutuhan pelatih kualitas nasional harus dulu dibuktikan oleh Sumsel.

Apakah Sumsel telah memiliki petenis potensial ? Kira2 demikian pertanyaannya bagi pembina tenis di Ibukota Jakarta.

Diam2 tanpa disadari salah satu kabupaten di Sumsel telah memiliki program pembinaan tenis yang berjalan sudah cukup lama. Bahkan dukungan pemerintah kabupaten Musi Banyuasin sehingga program tersebut berjalan dengan baik.

Salah satu atlet binaan PPLP Musi Banyuasin, Jonas Pratama ( 16 th) telah berhasil membuka mata pembina tenis di Jakarta. Bahkan sudah ada tawaran datang dari salah satu pelatih nasional untuk pindah ke training camp miliknya. Tetapi masih belum diterima oleh orangtuanya karena ada beberapa kekurangan yang dikuatirkan seperti sekolahnya yang belum bisa dijamin karena di Sekayu sekolahnya masih bisa berjalan bersama tenisnya. Disamping itu oula munculnya binaan PPLP menghasilkan Syahrul Ramadhan yang sudah waktunya berkembang seperti ikuti rekannya Jones Pratama.

Apakah kota Palembang tidak memiliki atletnya?

Ada beberapa klub setia dengan program latihannya. Yaitu ITTEC dan klub Baturaja yang mulai berkembang akhir akhir ini Tetapi ada juga klub lannya sudah non active akibat minimnya petenis binaannya.

ITTEC memunculkan Panji A Susilo yang sudah layak go international. Hanya saja kendala saat ini bagi dirinya adalah ada pilihan lain yaitu soft tennis atau tenis. Begitu pula dengan petenis putri binaannya sudah berjalan secara rutin dalam pembinaan setempat. Bahkan masih banyak lagi yang masih malu malu muncul akibat awalnya minim kegiatan dikota Palembang.
Klub Baturaja muncul Alfith Ridho yang sudah waktunya muncul ketingkat nasional.

Induk organisasi tenis atau Pelti sudah mendatangkan pelatih asing asal Belanda. Apakah pelatih tersebut bisa dimanfaatkan oleh pengda Pelti? Ini pertanyaan muncul dari rekan2 didaerah khususnya luar Jawa. Kesan yang muncul saat ini justru lebih cenderung dimanfaatkan oleh Pelti di Jawa dibandingkan oleh Pelti diluar Jawa.

Alangkah indahnya PP Pelti buat program kedaerah daerah dengan memanfaatkan keberadaan pelatih asing tersebut. Beberapa opsi bisa ditawarkan kepada daerah tersebut. Opsi pertama PP Pelti menanggung seluruh beaya pelatih asing tersebut yi honor, akomodasi dan transportasi dari Jakarta. Opsi kedua honor pelatih ditanggung PP Pelti sedangkan akomodasi dan transportasi ditanggung Daerah.

Sebenarnya pelatih asing itu sudah ditanggung kontraknya oleh Pelti Pusat sehingga tidak perlu lagi dibebankan oleh Daerah.

Yang menjadi masalah adalah Pengda Pelti menyiapkan dana beaya pelaksanaannya.

Pengda Pelti bisa mencari solusi pendanaan tersebut. Dengan cara sponsorship dan juga bisa dibebankan kepada peserta training oleh pelatih asing. Kehadiran pelatih asing kedaerah daerah diluar Jawa sebenarnya sudah pernah dilakukan oleh PP Pelti sebelumnya. Sebaiknya bisa dilakukan oleh PP Pelti saat ini.

Sasarannya bisa untuk pengembangan pelatih daerah maupun atlet daerah. Mulai yang simpel yaitu Workshop didaerah dengan sasaran pelatihnya. Kemudian training camp untuk petenis yuniornya.
Selama berada di Indonesia pelatih asing yang sudah dikontrak dimanfaatkan untuk kegiatan Workshop di Jawa.
Sekarang yang jadi pertanyaan apakah ada kemauan dari Pelti Pusat yang memiliki program pembinaan nasional ? ( penulis August Ferry Raturandang,www.remajatenis.blogspot.com))


TOTAL VISITOR
Sponsor
banner-169x41-tennisicoach banner-169x41-playstay banner-169x41-itf banner-169x41-fedcup banner-169x41-daviscup
Marquee Content Powered By Know How Media